Sang Khalik berkehendak apapun terhadap makhluk ciptaan-Nya. Usia, jodoh, rejeki telah ditentukan oleh-Nya Bahkan takdir usia seseorang sudah ditentukan tanpa ditambah atau dikurangi sedetikpun. Siang itu, Rabu (10/12), saya dan empat rekan Media Center Haji (MCH) Mekah serta Pak Deden, berniat berangkat ke Jamarat atau Lokasi Lontar Jumrah.
Melihat kondisi jalanan yang macet bahkan cenderung lalu lintas di kota Mekah lumpuh total, kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Wisma Haji sekaligus Kantor Daerah kerja (Daker) Mekah. Jarak dari Wisma Haji ke Jamarat sekitar tiga hingga empat kilometer. Hari itu merupakan hari kedua Tasyrik, yang merupakan hari terakhir bagi jamaah haji yang mengambil Nafar Awal untuk melontar jumrah. Sekitar hampir 80 persen jamaah haji dari seluruh dunia, termasuk jamaah haji Indonesia, mengambil Nafar Awal, dengan demikian hari itu merupakan hari puncak kepadatan jamaah melontar jumrah.
Kami berangkat sekitar pukul 11.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Sepanjang perjalanan, kondisi kendaraan benar-benar berhenti karena macet. Ratusan bahkan ratusan ribu jamaah berjalan kaki dari berbagai penjuru menuju lokasi Jamarat. Terbanyak, dari arah lokasi tenda Mabit di Mina.
Menjelang tiba di lokasi Jamarat, dari kejauhan saya lihat kondisi arah masuk maupun arah keluar dipadati oleh jamaah. Jamaah tampak sangat menyemut. Jumlah tentara yang berjaga-jaga tampak jauh lebih dibanding hari pertama dan kedua lontar jumrah.
Kami ber-enam memilih untuk melakukan lontar Jumrah di lantai dua. Niat kami untuk menghindari padatnya jamaah di lantai dasar. Namun ternyata di lantai dua pun situasi juga sangat padat. Karena kepadatan itu pula akhirnya saya dan Pak Edy Supriatna dari Antara terpisah dengan empat rekan kami. Saya dan Pak Edi berusaha sebisa mungkin untuk terus bersama. Walaupun padat, kami masih bisa bergerak agak leluasa di lokasi lontar jumrah. Usai melempar jumrah Wustha, Ula dan Aqobah, saya dan Pak Edy mengikuti arus jamaah menuju arah keluar lokasi jamarat.
Saat keluar inilah terjadi penumpukan jamaah. Pasalnya, jalan keluar yang lebarnya sekitar 40 meter, semakin ke arah keluar semakin menyempit. Penyempitan ini terjadi karena petugas Arab Saudi harus membagi jalan atau jalur dengan jalur jamaah yang keluar dari lantai dasar.
Hingga pada akhirnya sampai pada satu titik, saya, pak Edy dan ribuan jamaah lainnya berhenti sama sekali, tak bisa bergerak maju. Di bawah terik matahari yang saya perkirakan suhu udara saat itu sekitar 33 derajat Celcius, kondisi pun mulai tampak kacau. saya pun terpisah dari pak Edy. Karena sudah letih, berkeringat dan panas, ribuan jamah yang //stag// tak bisa bergerak maju sama sekali itu pun mulai gelisah. Dorong-dorongan pun mulai terjadi. Kondisi ini diperparah arus jamaah yang menuju arah keluar usai lontar jumrah pun semakin banyak. Dorongan jamah dari belakang saya pun makin kuat saya rasakan.
Takut, perasaan itulah yang spontan muncul pertamakali dari hati saya. Saya hanya bisa mengikuti arus ombang-ambing gelombang jamaah. Kaki saya beberapa kali terinjak jamaah lain dan sering merasakan menendang sandal atau alas kaki jamaah yang sudah terlepas dan tercecer. Ketakutan makin menjadi seiring makin terjepitnya saya, karena kuatnya dorongan dari belakang.
Sementara saya dan ribuan jamaah lainnya tak berdaya bergerak maju karena kondisi sudah //stag//. Kepanikan ribuan jamaah pun makin menjadi. Suayya...suayya (sabar red.), sabar...sabar..sobirin..... Teriakan-teriakan ini terus saya dengar dari para jamaah. Berharap agar mereka bersabar dan tidak saling mendorong. Terdengar jeritan dan tangisan jamaah wanita yang mungkin sudah letih dan penat serta terdesak.
Terus terang hingga terbersit dalam pikiran saya, Ya Allah, sampai di sinikah umur saya. Saya terus berdoa pada Sang Pencipta untuk diberi kekuatan dan segera terlepas dari jepitan dan kerumunan ribuan jamaah yang sudah sangat panik itu. Situasi makin kacau ketika jamaah mulai berupaya menyelamatkan diri dengan menuju pagar pembatas jalan dan berusaha melompat pagar. Namun entah mengapa, saat itu saya pasrah, saya hanya bisa menatap mereka yang berusaha melompat pagar kawat.
Hingga akhirnya Alhamdulillah entah mengapa seolah ada kekuatan yang mengajak saya untuk terus berusaha 'melawan' jepitan dan kerumunan itu. Spontan saya mengikuti para jamaah yang berusaha ke tepi atau pagar pembatas. Saya pun ikut melompat pagar kawat pembatas. Lepas dari jepitan dan kerumunan jamaah, saya pun bertemu Pak Edy kembali.
Para jamaah haji Indonesia sejak awal sudah diperingatkan untuk tidak melakukan lontar jumrah pada siang hari, karena kekhawatiran padatnya lokasi Jamarat. Terus terang saya dan rekan-rekan memang salah memilih waktu dan justru tak mengikuti anjuran tersebut. Alhamdulillah, beberapa jam selepas peristiwa itu, saya tidak mendengar adanya korban akibat kondisi berdesakan tadi. Alhamdulillah doa saya Kau kabulkan Ya Robb, dan masih kau panjangkan umurku.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar