Banyaknya jumlah jamaah udzur dari berbagai negara, membuat penjual jasa kursi roda di Masjidil Haram panen rejeki. Bames bin Ibrahim, warga Arab Saudi, dengan bahasa `Tarzan` mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya yang menjadi anak buahnya, bisa mengumpulkan uang sehari sekitar 200 hingga 300 real. Dari pantauan //Republika//, tampaknya Bames adalah salah seorang `bos` penjual jasa kursi roda di Masjidil Haram. Ia memiliki beberapa `anak buah`. `Anak buah` Bames ini tampak selalu melapor pada Bames usai ia menunaikan tugas mengantarkan jamaah yang menggunakan jasa kursi roda `paket umrah`
Sejumlah `anak buah` Bames tampak masih anak-anak. Ada yang berusia di kisaran 13 tahun hingga 20-an tahun. Namun mereka memang tampak cepat dan gesit mendorong jamaah yang menggunakan jasanya, walaupun badan jamaah rata-rata lebih besar dari badan para pendorong kursi roda ini.
Dikatakan Bames yang baru berusia 23 tahun namun mengaku sudah memiliki dua istri dan tiga anak ini bahwa untuk tarif dari luar areal ke dalam Masjidil Haram atau sebaliknya, biasanya mereka meminta sekitar 10 hingga 15 real. Itupun terkadang jamaah memberikan tambahan. “Tapi kalau untuk jasa mulai awal hingga proses rangkaian umah selesai, yaitu Tawaf tujuh putaran dan Sa`i Sofa-Marwa tujuh kali, sekarang rata-rata jasanya sekitar 200 real,“ tandas Bames.
Jika sudah mendekati musim puncak haji, tarif itupun menurutnya akan naik seiring dengan banyaknya pencari jasa kursi roda. “Kalau sudah mendekati puncak haji, jika seluruh rangkaian Umrah, biasanya bisa mencapai 500 real,“ tutur Bames. “Nah, nanti kalau untuk Tawaf Wadha atau tawaf perpisahan, itu bisa mencapai 500 hingga 700 real,“ tambahnya. Kursi roda, yang menjadi modal utama mereka, tampaknya merupakan milik mereka sendiri.
Para penjual jasa kursi roda ini harus menguras tenaga ekstra. Pasalnya, dalam beberapa hari belakangan, kondisi Masjidil Haram sudah mulai padat. Sehingga khusus jamaah udzur dengan kursi roda, Tawaf dilakukan di lantai dua. Tentunya jarak tempuh mereka mengelilingi Ka`bah lebih melebar atau lebih jauh dibanding Tawaf di bawah atau persis di depan Ka`bah. Cukup banyak jamaah haji Indonesia yang udzur atau lanjut usia yang melakukan Tawaf di lantai dua dengan menggunakan kursi roda. Namun mereka biasanya dibantu oleh rekan atau saudara sesama jamaah.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar