Selasa, 13 Desember 2011

Pak Slamet, Haji 2008

Keinginan utama Pak Slamet ke tanah suci adalah utamanya untuk menunaikan ibadah haji. Selain itu, Pak Slamet juga ingin memperbanyak beribadah menjalankan shalat lima waktu di Masjidil Haram. Sayangnya, kondisi jauhnya pondokan dan sarana transportasi yang kurang menunjang selama di Mekah, Pak Slamet hanya sempat beberapa kali saja beribadah shalat wajib di Masjidil Haram.

Pak Slamet dan Bu Slamet tergabung dalam kloter 44 Surabaya. Kloter dengan jumlah jamaah sekitar 400 orang ini mendapatkan pondokan di wilayah Aziziah, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Masjidil Haram. Tak banyak yang diharapkan Pak Slamet dari pelayanan haji yang diberikan oleh pemerintah. Ia bahkan masih bisa memaklumi kondisi pondokan yang jauh. ''Asal bisa diimbangi dengan transportasi yang memadai dan memudahkan kita ke Masjidil Haram, itu tidak terlalu masalah,'' demikian kata Pak Slamet.

Sementara kondisi yang dihadapi Pak Slamet beserta rekan-rekan satu kloter dan hampir seluruh jamaah haji Indonesia, sudah pondokannya jauh, sebagian besar dari mereka juga menilai masalah transportasi minim dan 'bermasalah', Ulah sejumlah oknum pengemudi bis yang sebagian besar orang Mesir yang mebutip uang antara satu hingga tiga real per jamaah, setidaknya merupakan salah satu angka merah dari sisi transportasi. Angka merah lainnya adalah kecukupan ketersediaan bis bagi ratusan ribu jamaah yang banyak dipertanyakan oleh Pak Slamet dan kebanyakan jamaah lainnya.

Pasalnya, kondisi riil di lapangan adalah banyaknya keluhan dari jamaah bahwa mereka sulit untuk mendapatkan bis angkutan yang disediakan pemerintah. Sehingga banyak dari jamaah yang 'terpaksa' merogoh 'koceknya' sendiri untuk naik angkutan umum ke Masjidil Haram dan pulang ke pondokannya. Seperti yang dialami Nurul Agustina, jamaah kloter 20 JKG Banten. ''Sudah kita dikutip antara tiga hingga empat real per jamaah, bisnya pun jarang ada,'' papar Nurul.

Belum lagi persoalan makanan katering yang diberikan oleh pemerintah tiga hari sebelum hari-hari Armina. Banyak jamaah yang mengeluhkan kondisinya sangat tidak layak, bahkan ada beberapa yang sudah basi dan berjamur. Saya pun sempat memantau langsung ke lapangan kondisi makanan ini dan memang terbukti demikian. Selain itu, pendistribusian makanan ini juga 'kacau'. Seperti makanan yang seharusnya untuk makan siang, baru diterima jamaah sore bahkan malam. Tak sedikit pula pondokan yang sama sekali tidak mendapatkan makanan ini. Hingga akhirnya makanan dari pemerintah yang direncanakan juga akan diberikan selama tiga hari setelah proses Armina, akhirnya dibatalkan.

Kondisi riil lainnya yang dihadapi jamaah adalah beberapa pondokan kondisinya sangat tidak layak. Temuan saya di lapangan, pondokan yang tak layak ini justru berda di ring satu atau berjarak kurang dari 1400 meter dari Masjidil Haram. Beberapa saya temukan, kondisi pondokan sangat kumuh, kotor dan bau, bahkan sejumlah penjaga rumah, mengisi galon air minum untuk jamaah dengan air kran. Belum lagi masalah kebutuhan air untuk mandi dan cuci yang di beberapa pondokan beberapa kali terjadi keterlambatan pasokan air.

Tidak hanya jamaah yang mengaku kaget dengan kondisi jauhnya pondokan, Menteri Agama Maftuh Basyuni pun mengaku kaget. ''Saya kira dibilang jauh itu ya jauh saja, bukan sangat jauh seperti ini. Ini bisa dikatakan Yaumil Akhir, ujung dunia. Saya menangis melihat kondisi ini,'' papar Menag yang juga sebagai Amirul Hajj.

Bahkan sesaat setelah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah pondokan, Tim Khusus ini diminta untuk melaporkan langsung sebetulnya bagaimana kondisi riil pondokan bagi jamaah haji Indonesia yang tersebar di 15 sektor dan terdiri jumlahnya mencapai 600 lebih gedung atau pondokan. ''Laporkan secara rinci temuan kalian di lapangan. Kondisi perumahan seperti apa, masalah air, AC, jumlah jamaah dalam satu kamar dan lainnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi,'' pesan Abdul Gani, Kepala Pelayanan Keamanan (PAM) Teknis Urusan Haji (TUH) pada tim khusus ini. Menteri pun kemudian meminta maaf pada jamaah atas kondisi yang dialami jamaah pada musim haji 2008 ini dan berjanji akan memperbaikinya pada musim haji tahun depan.

Saat ini posisi Pak Slamet dan Bu Slamet sudah di Madinah, yang dalam beberapa hari ke depan akan pulang ke tanah air. Sementara Nurul Agustina juga tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Jedah yang kemudian langsung pulang ke tanah air. Mungkin bagi mereka, semua persoalan yang dihadapi tersebut akan sekejap bisa terlupakan.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar