Mbak Reni, apoteker, rekan sesama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), semula ragu untuk meminum susu onta. Namun karena hampir semua dari kami, tim Media Center Haji (MCH) dan rekan-rekan PPIH yang lain sudah meminum susu onta, Mbak Reni pun dengan sedikit memaksakan diri, mulai meneguk susu onta dalam kemasan botol kecil. Tegukan pertama, kedua tidak ada masalah. Ketika pada tegukan ketiga, wajahnya pun berubah sedikit memucat dan seolah ingin maaf, muntah. Namun masih tertahankan
Pada Ahad (30/11), kami bertujuh dari MCH memang berencana meliput kegiatan pemerahan susu onta di wilayah Hudaibiyah, sekitar 20 kilometer arah Timur dari kota Mekah. Kali ini cukup banyak rekan-rekan sesama PPIH yang menemani kami. Seperti Mbak Reni, Liza, Ibu Um, Ibu Nunung, dokter gigi Hani, dokter Lely, Agung dan Pak Baidun. Tentunya mereka semua tengah //off// tugas atau bukan pada saat piket tugas. Kendaraaan opreaional MCH, Toyota Hi Ace versi long, kali inipun terasa 'hangat, karena diisi 16 orang termasuk Pak Deden, pengemudi setia MCH.
Perjalanan dari kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah tempat kami bekerja dan tinggal menuju kawasan Hudaibiyah ditempuh sekitar satu jam. Pasalnya ada sejumlah ruas jalan yang kurang mulus aspalnya, sehingga kecepatan kendaraan tidak bisa maksimal.
Tidak seperti yang saya bayangkan semula, peternakan susu onta layaknya peternakan sapi di Indonesia. Besar, luas, dengan kandang-kandangnya yang teratur rapi. Setibanya di wilayah Hudaibiyah, sesekali saya melihat pemandangan di pinggir jalan, segerombolan unta betina. Tanpa atap tanpa bangunan permanen maupun semi permanen sebagai tempat pelindung onta maupun pelindung peternak onta dari terik matahari.
Begitu kami membuka pintu mobil, aroma 'pesing' dari onta-onta inipun tercium menyengat. Di lokasi ini ada sekitar 10 ekor onta betina. Jarak onta-onta ini hanya sekitar lima meter dari tepi jalan raya. Hanya terdapat sebuah meja kecil lengkap dengan baskom baja putih dan botol-botol plastik kecil.
Melihat kedatangan kami, dua orang peternak onta yang berasal dari Sudan, spontan menyiapkan baskom dan bersiap untuk memeras susu salah satu onta peliharaannya. Tak sampai lima menit, terkumpul sekitar setengah baskom susu onta. Seorang Sudan lagi dengan cekatan menyiapkan botol-botol plastik kecil untuk kemudian langsung diisi dengan susu onta yang baru diperas tersebut.
Satu kemasan botol kecil yang berisi sekitar satu gelas ini dijual seharga lima real atau sekitar 15 ribu rupiah. Semula kami ragu karena susu yang disajikan dan dijual itu sama sekali tidak memalui proses dimasak atau direbus. Hanya sekedar disring dengan kain putih saja dan langsung dikemas dalam botol. ang saya bayangkan semula, bahwa susu onta ini terasam amis dan asam, ternyata tidak. Sama sekali tidak ada rasa amis ataupun asam. benar-benar tawar layaknya susu sapi dan Nyammi!
Liza, perlahan tapi pasti meneguk habis satu botol kecil susu onta itu. Melihat hal tersebut, Mbak Reni pun mulai memberanikan diri untuk meminumnya. Sementara rekan-rekan ibu-ibu lainnya ada yang masih tampak ragu dan ada juga yang langsung meneguk habis. Dokter gigi Hani sama sekali tak minum karena menurutnya ia selama ini tidak cocok minum susu.Sementara kami, tujuh wartawan yang tergabung dalam MCH Mekah, tanpa ragu, masing-masing menghabiskan satu botol susu tersebut.
Konon susu onta banyak khasiatnya. Mulai dari untuk menghangatkan badan, menghilangkan masuk angin, menambah stamina. Bahkan adapula yang mengatakan dapat digunakan sebagai obat kanker.
osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar