Selasa, 13 Desember 2011

Percetakan Alquran Madinah, Haji 2008

Selama empat hari berada di Madinah, saya berkesempatan mengunjungi Kompleks Percetakan Alquran Raja Fahd. Percetakan Alquran ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Raja Fahd pada tahun 1982. Dua tahun kemudian, kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 250 ribu meter persegi ini diresmikan oleh Raja Fahd.

Percetakan Alquran Raja Fahd mempekerjakan 1700 pegawai. Setidaknya sejak pertama berdiri, sudah dua juta Muslim telah berkunjung ke percetakan Alquran yang terletak di pusat kota Madinah dan bersebelahan dengan kompleks militer Arab Saudi di Madinah. Kaum hawa tidak diperkenankan untuk memasuki atau mengunjungi kompleks percetakan ini.

Percetakan Alquran ini setiap tahunnya memproduksi lebih dari sepuluh juta Alquran. Namun jika dikehendaki, percetakan ini mampu mencetak lebih dari 30 juta Alquran setiap tahunnya, dengan sistem kerja tiga shift. Alquran hasil produksi tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Antara lain bahasa Afrika, bahasa China, Korea, Indonesia, dan Eropa. Ini semua dijelaskan oleh Humas percetakan ini, Yasin Umar dan diterjemahkan oleh salah seorang Tenaga Musiman (Temus) PPIH, Munif Attamimi.

Hebatnya, sebelum Alquran ini dilepas ke pasar, tahapan yang harus dilalui sangat banyak dan cukup rumit. Sebelum dicetak pada media yang kertas cetak sebenarnya, para kaligrafer menorehkan tulisan-tulisan huruf Al Quran tanpa titik dan baris diatas kertas transparan. Kemudian hasil tulisan para kaligrafer itu langsung dikirimkan ke ulama-ulama untuk dilakukan pemeriksaan secara mendetail dan teliti. Setelah melakukan pemeriksaan, tim yang terdiri dari ulama-ulama besar itu langsung menemui penulisnya.

Menurutnya, apabila sudah benar maka akan dilanjutkan dengan tahapan berikutnya, yakni memberikan titik untuk huruf-huruf tertentu, pada halaman yang ada, selanjutnya kembali dikirimkan ke panitia untuk diteliti kebenarannya. Apabila sudah benar, selanjutnya tahapan ketiga diberikan baris-barisnya, berikutnya memberikan tanda-tanda wakaf. Serta tahapan kelima akan memberikan nomor-nomor ayat, dan halaman.

Kalau ada kesalahan sekecil apapun, ada titik yang lebih misalnya siin, sekecil apapun pasti akan dikembalikan. Dan yang salah-salah tadi akan dikirim ke tempat pemusnahan. Begitu juga hasil yang catat, benang tidak rapat, atau kertas berlebih, melipat, langsung dimusnahkan.

Jadi untuk menjaga kualitas, Alquran yang diproduksi juga melewati tiga tahapan pengecekan dan pemeriksaan. Yaitu pertama //text control//, //quality control// dan terakhir //final control//.

Selain secara teliti menghasilkan Al Quran baik bentuk versi cetak dan audio CD/kaset, juga mencetak jurnal-jurnal serta melakukan penelitian dan melakukan kajian mengenai kandungan isi Al Quran. Salah satunya bertujuan untuk membantah adanya penyimpangan terhadap kandungan isi Alquran.

Dalam kompleks ini terdapat gedung pusat penelitian dan pengembangan Dirosah Islamiyah, Al Quran, As-Sunnah. Disamping gedung-gedung lain seperti tempat percetakan, pelatihan petugas, gedung tempat penyimpanan hasil percetakan, pemusnahan sisa percetakan, reparasi alat-alat percetakan, serta perumahan untuk para pejabat dan tamu VVIP.

Bagaimana di tanah air? Pemerintah Indonesia kini telah memiliki percetakan Alquran. Pada pertengahan bulan lalu, Menter Agama Muhammad Maftuh Basyuni tidak kuasa menahan haru dan meneteskan air mata saat memberi sambutan pada peresmian operasional percetakan Alquran Departemen Agama (Depag) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Menag Maftuh terharu karena dirinya sejak tahun 70-an sudah mengatakan, umat Islam begitu banyak, kenapa tidak mampu mendirikan percetakan Al Quran, setelah percetakan yang lama hancur.

Kehadiran percetakan Al Quran ini, menurut Menag saat itu, diharapkan menjadi salah satu ikon dakwah Islam. Sekaligus momentum untuk memperkuat upaya memberantas buta baca-tulis Al Quran di kalangan anak-anak dan remaja, dan juga memberantas buta pemahaman terhadap kandungan Al Quran di masyarakat.

Menag Maftuh berharap percetakan Alquran yang dibangun dengan biaya Rp 30 miliar ini mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dan tidak ada lagi Alquran yang salah cetak.

Percetakan ini berdiri di atas lahan seluas 1.530 meter persegi dan dilengkapi berbagai alat percetakan yang menjamin hasil cetakan dalam kualitas prima. Kapasitas produksinya sampai 1,5 juta eksemplar per tahun. Untuk cetakan perdana, akan dicetak Al Quran Juz Amma dilengkapi Iqro yang akan dicetak berwarna dengan ukuran buku saku. Tahun depan percetakan di Ciawi ini siap mencetak tafsir Al Quran. Selain Alquran, percetakan ini juga akan mencetak berbagai buku agama dan kebutuhan Depag.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar