Selasa, 13 Desember 2011

Banyak Berbekal Sabar


Sekitar sebulan sebelum saya berangkat ke Tanah Suci, orangtua saya, saudara serta banyak rekan berpesan agar saya benar-benar mempersiapkan diri sebelum

bertolak ke Tanah Suci. Baik persiapan fisik, psikis dan juga memantapkan niat Insya Allah memenuhi panggilan Sang Pencipta, mereka juga berpesan agar banyak berbekal sabar. Ujian

kesabaran saya dapatkan pertamakali sejak memasuki Asrama Haji Pondok Gede. Sekitar hampir 500 orang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk Daerah

Kerja (Daker) Mekah, masuk ke Asrama Haji pada tanggal 1 November lalu. Untuk kemudian keesokan harinya diberangkatkan dalam dua gelombang penerbangan ke

Tanah Suci melalui Bandara King Abdul Aziz, Jedah. Jumlah petugas tersebut dalam hampir waktu yang bersamaan tiba di Asrama Haji Pondok Gede dan diarahkan

untuk mencari tempat atau kamar di gedung D1. ''Silahkan saja, bapak-bapak, ibu-ibu, mana kamar yang kosong masuk saja,'' petunjuk sejumlah petugas dari

Depag pada kami.

Spontan kamipun setengah berebut mencari-cari kamar yang masih kosong. Setiap kamar Gedung D1 yang tiga lantai ini rata-rata berisi delapan tempat tidur atau

ranjang tingkat. Jadi setiap kamar berisi 16 tempat tidur. Sayapun dengan enam rekan sesama MCH (Media Center Haji) dan seorang rekan dari Layanan Umum,

mendapatkan tempat di salah satu kamar di lantai dua. Sesaat setelah kami menyimpan tas dan koper besar di kamar, kamipun baru menyadari bahwa ternyata AC

dan kipas angin di kamar kami tidak berfungsi. Terpaksa kamipun berusaha tetap bisa beristirahat dengan kondisi udara lumayan panas serta 'sedikit' gangguan

nyamuk, karena jendela dan pintu harus kami buka lebar-lebar untuk mengurangi udara pengap. Insya Allah kalau kita tetap sabar, semua tetap terasa nyaman-

nyaman saja.

Ujian sabar selanjutnya kami rasakan saat menunggu sekitar lima jam di bandara Soekarno Hatta sebelum akhirnya kami bertolak ke Jedah dengan pesawat Garuda.

Untuk mengantisipasi lamanya proses pengurusan keimigrasian, kami yang masuk dalam gelombang kedua diberangkatkan sekitar pukul 07.30 WIB dari Asrama Haji ke

Bandara. Sementara jadwal terbang adalah pukul 12.55 WIB. Sekali lagi, walaupun kita harus duduk 'lesehan' di Bandara, namun jika kita jalankan dengan penuh

kesabaran dan ikhlas, Insya Allah inipun terasa nikmat.

Setelah terbang selama sekitar sembilan jam, kamipun tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jedah. Di bandara ini, kembali kesabaran saya mendapat ujian. Pelayanan

keimigrasian menurut sejumlah rekan sesama petugas yang sudah berpengalaman, mengatakan bahwa untuk kali ini, pelayanan keimigrasian di Arab Saudi, khususnya

di Bandara King Abdul Aziz, cenderung lebih bagus dan lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walaupun memang terasa cepat, namun kami harus melalui

tiga pos pemeriksaan di Bandara tersebut sebelum akhirnya bisa beristirahat sejenak di ruang tunggu. Pos pertama, jelas pemeriksaan kelengkapan paspor dan

lainnya. Pos kedua dan ketiga, tampaknya juga masih terkait dengan keimigrasian. Hanya sekedar membubuhkan stempel dan paraf petugas dan pengecekan

kelengkapan lainnya.

Pada pos pertama, lama pemeriksaan tiap-tiap orang tidak sama. Arsip yang diperiksapun juga tergantung petugas imigrasi yang memeriksa di pos pertama ini.

Alhamdulillah saya termasuk yang cepat dan lancar. Ada rekan petugas yang entah mengapa, si petugas imigrasi mencermati wajah rekan kami tersebut sembari

melihat foto nya di paspor. Bahkan ia harus cek sidikjari, serta difoto lagi di pos tersebut. Tentunya hal-hal seperti ini juga membuat sejumlah rekan dari

rombongan kami yang antri di belakang rekan kami tersebut, jadi deg-degan dan bertanya-tanya. 'Apakah saya akan diperlakukan seperti itu atau bisa cepat ya?'

Namun Alhamdulillah, mungkin karena kami semua tetap berupaya selalu sabar dan ikhlas, semua proses keimigrasian berhasil kami lewati tanpa hambatan berarti.

Semua proses itu termasuk berihram dan niat Ihram Umrah di Bandara selesai sekitar pukul 01.00 dinihari (3/11) waktu setempat.

Kamipun dengan lima bus besar diangkut langsung menuju Masjidil Haram untuk menjalankan Umrah. Alhamdulillah berkat bekal sabar dan ikhlas pula, kami bisa

menjalankan Umrah dengan lancar. Termasuk hampir seluruh dari kami diberi kesempatan oleh-Nya untuk mencium Hajar Aswad. Mungkin memang karena situasi di

Masjidil Haram juga belum terlalu padat dengan jamaah. Namun yang jelas tentunya semua atas ijin dan kuasa dari-Nya. Subhanallah.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar