Selasa, 13 Desember 2011

Ta’sya ala Arab

Terus terang, walau sudah 12 hari ini saya berada di Mekah, makanan khas Arab yang pernah saya makan, baru Nasi Kebuli. Itupun kebetulan pada acara berdoa bersama seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Mekah di Padang Arafah beberapa hari lalu. Sekali lagi, pada acara Ta’aruf kepala sektor satu hingga 17 yang ada di Mekah dengan pengurus perumahan atau maktab yang sebagian besar orang Arab.
Sehari-hari saya selama di Mekah, selalu makan makanan khas Indonesia. Pasalnya setiap hari di Wisma Haji atau Kantor Daerah kerja (Daker) Mekah, katering kami justru selalu menyajikan makanan khas Indonesia. Seperti rendang, bakso, ayam goreng, urap, sop daging, tahu tempe, oreg tempe, sayur lodeh, sayur asem dan lainnya. Dengan citarasa tinggi dan sangat mengundang selera tentunya. Kami, tujuh orang yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Mekah pun ingin merasakan makanan khas Arab lainnya selain nasi kebuli.
Usai liputan simulasi transportasi untuk jamaah haji Indonesia selama di Mekah pada Kamis lalu, kami pun ke pasar swalayan Noori yang terletak tak jauh dari Wisma Haji Mekah. Sebetulnya kami ke pasar swalayan ini ingin sekedar membeli minuman jus dalam kemasan. Namun salah satu rekan kami, Azhar Azis dari Sindo ‘diam’diam’ langsung menuju ke tempat bagian makanan di pasar swalayan itu. Ternyata ia ditemani pengemudi ‘pribadi’ kami, Pak Deden langsung belanja sejumlah makanan khas Arab. Kebetulan, menurut Azhar, si penjaga counter makanannya juga orang Indonesia.
Kami kaget ketika setiba di Wisma Haji, tiba-tiba Azhar mengajak kami semua untuk makan bersama. Ia pun membuka sekantong plastik besar berisi makanan. Satu persatu dikeluarkan. Ada Roti Sami (roti panggang berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 25 cm), buah Zaitun, Jubnah (keju putih), Halawah Taheniah (Selai kacang berwarna putih) serta Gistoh (keju krim). ”Nah, kita ‘coba’in’ makan malam ala orang Arab,” kata Azhar yang diamini Pak Deden. Sambil menyantap makanan tersebut, Pak Deden menjelaskan satu-persatu nama-nama jenis makanan itu. Biasanya, orang Arab di Arab Saudi ini menyantap makanan tersebut sembari ditemani Sahi atau teh manis khas Arab. Makan ramai-ramai duduk lesehan dengan makanan dalam satu wadah atau nampan seperti ini, kalau di kampung saya di Tasikmalaya, disebut ‘Ngaliwet’.
Konon kebiasaan orang Arab di Arab Saudi ini, jam makan malamnya atau Ta’sya adalah sekitar pukul 23.00 hingga pukul 00.00. Mereka belum ‘marem’ kalau belum makan roti sami dengan ‘lauk pauk’ seperti yang saya ceritakan di atas. Di pagi hari, mereka biasa menyantap roti dengan isi ‘omelette’ atau kita menyebutnya dengan telur dadar. Sarapan pagi atau yang biasa disebut Futur ini dilakukan sekitar pukul 10.00 hingga pukul 11.00. Nah, pada makan siang atau mereka menyebut Taqodho, Orang Arab ini biasanya menyantap nasi kebuli, nasi buchori atau lainnya, lengkap dengan lauk daging kambing dengan porsi yang mungkin bagi ukuran orang Indonesia, bisa disantap untuk dua atau tiga orang.
Jam makan siang mereka pun sebetulnya bisa dikatakan sudah menjelang sore. Yaitu sekitar habis Shalat Ashar. Sehingga jam makan malam merekapun bergeser ke tengah malam bahkan hampir dinihari berikutnya.
Sebetulnya walau pertama kali mencoba, makanan yang biasa dimakan pada malam hari oleh orang Arab ini, citarasanya masih cukup familiar dengan lidah orang Indonesia. Apalagi kalau kebetulan perut dalam kondisi lapar. Alhamdulillah, kami pun tujuh wartawan yang tergabung dalam MCH Daker Mekah atau biasa kami menyebut sebagai ‘Seven Samurai’ beserta Pak Deden, bisa sama-sama merasakan makan malamnya orang Arab di Tanah Haram ini, atau Ta’sya ala Arab.
n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar