Jamaah Indonesia datang ke Tanah Suci tentunya dengan niat dan konsentrasi untuk beribadah. Mereka berharap walaupun kondisi perumahan atau pondokan jauh dari Masjidil Haram, transportasi dari dan ke pondokan bisa lancar. Kondisi perumahan atau pondokan jamah yang jauh dari Masjidil Haram, mengharuskan pemerintah juga menyediakan fasilitas transportasi bagi jamaah khususnya yang pondokannya berada di ring dua atau berjarak lebih dari 1400 meter dari Masjidil Haram.
Sejak awal, hasil pantuan saya di lapangan bersama teman-teman dari media Center Haji (MCH), sebenarnya banyak jamaah yang bisa menerima kondisi ini, asalkan transportasi lancar. Namun tidak sedikit pula jamaah yang mengeluhkan kondisi jauhnya pondokan ditambah dengan kondisi pelayanan transportasi yang menurut mereka kurang memadai. Hingga tak sedikit jamah yang karena menurut mereka lama menunggu bis jemputan, mereka ke Masjidil Haram dengan swadaya naik taxi.
Mula-mula petugas menyediakan tiga titik atau tiga terminal di sekitar Masjidil Haram, yaitu terminal A, B dan C. Dari sini, sudah mulai tampak adanya titik-titik lemah. Seperti misalnya jumlah ketersediaan bis yang sebanyak 600 buah, dibanding banyaknya jamaah Indonesia yang total sebanyak 210 ribu jamaah, yang mungkin yang tinggal di ring dua sekitar 160 an ribu jamaah setelah dikurangi jamaah BPIH khusus. Sementara kapasitas satu bis adalah 50 orang duduk.
Belakangan, tiga terminal ini harus bergeser ke titik yang berbeda dengan sistem pengangkutan yang juga diubah. Perubahan ini karena perubahan mendadak pula dari polisi Arab saudi yang melarang bis-bis besar untuk masuk di jalan-jalan di mana terdapat tiga terminal jamaah haji Indonesia tersebut. Walaupun sudah disosialisasikan perubahan ini, ternyata masih banyak pula jamaah yang belum mengetahui.
Belum lagi 90 persen pengemudi bis yang orang Mesir, sehingga tentunya ada kendala bahasa, belakangan ditambah dengan guide. Belum lagi jumlah sopir yang hanya satu untuk satu bis. Sehingga 'memaksa' sopir untuk bekerja dengan istirahat kurang. Sehingga mungkin wajar jika belakangan muncul kasus sopir yang mengutip uang satu hingga dua real per jamaah. Yang kemudian ada satu sopir Mesir akhirnya dipecat karena ketahuan mengutip uang. Pasalnya memang tidak ada kompensasi lembur dari perusahaan bis.
Kenyataan di lapangan bahwa jamaah banyak yang tidak memperhatikan di mana seharusnya ia menanti bis, makin memperparah kondisi. Sehingga banyak jamaah yang tersesat dan terjadi penumpukan.
Sistem pun kemudian direncanakan untuk diubah lagi, bahwa tiap-tiap kloter akan mendapatkan bis yang melekat pada kloter tersebut. Mungkin baru berjalan satu atau dua hari, ternyata pemerintah harus menghentikan seluruh transportasi bis dari pondokan ke Masjidil Haram karena aturan pmerintah Arab Saudi. Ini tidak saja berlaku bagi angkutan transportasi jamaah Indonesia, tapi juga untuk transportasi jamaah seluruh dunia.
Dikatakan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Depag, Slamet Riyanto bahwa penghentian oleh pemerintah Arab Saudi ini karena mengantisipasi padatnya jamaah di masjidil Haram dan sekitarnya. ''Baik pemerintah Arab Saudi maupun petugas haji Indonesia, berprinsip akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi para jamaah, bukannya justru ingin mempersulit. Saya perhatikan dalam beberapa terakhir ini, pihak aparat kepolisian Arab saudi memang memperketat penjagaannya. Terutama pada jalan-jalan yang menuju Masjidil Haram. Ada sejumlah ruas yang sudah ditutup sama sekali. Ada juga ruas-ruas jalan yang diberlakukan buka tutup,'' kata Slamet.
Dengan kondisi seperti itu, Slamet juga menghimbau agar jamaah untuk lebih mempersiapkan diri dari segi fisik dan mentalnya untuk pelaksanaan proses puncak haji Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina).
Sebelum penarikan bis-bis tersebut, Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan bahwa pemerintah akan membentuk tim khusus yang bertugas menyelesaikan permasalahan jemaah selama berada di tanah suci, termasuk masalah transportasi. ''Kami akan membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah jemaah secara tuntas supaya jemaah bisa pulang dalam keadaan sehat dan dapat pengalaman menyenangkan selama di tanah suci,'' papar Menag usai rapat di Teknis Urusan Haji, di Jedah .
Diakui Menag, tim itu dibentuk karena selama ini banyak permasalahan yang muncul dan membutuhkan perhatian khusus baik yang berhubungan dengan pemondokan maupun transportasi. ''Dari masalah sengketa pemondokan, ketersediaan air di pemondokan, maupun masalah transportasi,'' katanya.
Diatakan Menag, sebanyak 28.917 anggota jemaah haji Indonesia yang bisa tinggal di pemondokan yang berada di kawasan Ring I dengan radius di bawah 1.400 meter dari Masjidil Haram. Sisanya, sebanyak 168.261 orang, tinggal di pemondokan yang berada di kawasan Ring II.
Pengawas dan pemantau haji dari Komisi VIII DPR pun meminta pada petugas untuk bisa lebih memperbaiki sistem transportasi jamaah ini pasca proses Armina.
Sejak awal, hasil pantuan saya di lapangan bersama teman-teman dari media Center Haji (MCH), sebenarnya banyak jamaah yang bisa menerima kondisi ini, asalkan transportasi lancar. Namun tidak sedikit pula jamaah yang mengeluhkan kondisi jauhnya pondokan ditambah dengan kondisi pelayanan transportasi yang menurut mereka kurang memadai. Hingga tak sedikit jamah yang karena menurut mereka lama menunggu bis jemputan, mereka ke Masjidil Haram dengan swadaya naik taxi.
Mula-mula petugas menyediakan tiga titik atau tiga terminal di sekitar Masjidil Haram, yaitu terminal A, B dan C. Dari sini, sudah mulai tampak adanya titik-titik lemah. Seperti misalnya jumlah ketersediaan bis yang sebanyak 600 buah, dibanding banyaknya jamaah Indonesia yang total sebanyak 210 ribu jamaah, yang mungkin yang tinggal di ring dua sekitar 160 an ribu jamaah setelah dikurangi jamaah BPIH khusus. Sementara kapasitas satu bis adalah 50 orang duduk.
Belakangan, tiga terminal ini harus bergeser ke titik yang berbeda dengan sistem pengangkutan yang juga diubah. Perubahan ini karena perubahan mendadak pula dari polisi Arab saudi yang melarang bis-bis besar untuk masuk di jalan-jalan di mana terdapat tiga terminal jamaah haji Indonesia tersebut. Walaupun sudah disosialisasikan perubahan ini, ternyata masih banyak pula jamaah yang belum mengetahui.
Belum lagi 90 persen pengemudi bis yang orang Mesir, sehingga tentunya ada kendala bahasa, belakangan ditambah dengan guide. Belum lagi jumlah sopir yang hanya satu untuk satu bis. Sehingga 'memaksa' sopir untuk bekerja dengan istirahat kurang. Sehingga mungkin wajar jika belakangan muncul kasus sopir yang mengutip uang satu hingga dua real per jamaah. Yang kemudian ada satu sopir Mesir akhirnya dipecat karena ketahuan mengutip uang. Pasalnya memang tidak ada kompensasi lembur dari perusahaan bis.
Kenyataan di lapangan bahwa jamaah banyak yang tidak memperhatikan di mana seharusnya ia menanti bis, makin memperparah kondisi. Sehingga banyak jamaah yang tersesat dan terjadi penumpukan.
Sistem pun kemudian direncanakan untuk diubah lagi, bahwa tiap-tiap kloter akan mendapatkan bis yang melekat pada kloter tersebut. Mungkin baru berjalan satu atau dua hari, ternyata pemerintah harus menghentikan seluruh transportasi bis dari pondokan ke Masjidil Haram karena aturan pmerintah Arab Saudi. Ini tidak saja berlaku bagi angkutan transportasi jamaah Indonesia, tapi juga untuk transportasi jamaah seluruh dunia.
Dikatakan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Depag, Slamet Riyanto bahwa penghentian oleh pemerintah Arab Saudi ini karena mengantisipasi padatnya jamaah di masjidil Haram dan sekitarnya. ''Baik pemerintah Arab Saudi maupun petugas haji Indonesia, berprinsip akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi para jamaah, bukannya justru ingin mempersulit. Saya perhatikan dalam beberapa terakhir ini, pihak aparat kepolisian Arab saudi memang memperketat penjagaannya. Terutama pada jalan-jalan yang menuju Masjidil Haram. Ada sejumlah ruas yang sudah ditutup sama sekali. Ada juga ruas-ruas jalan yang diberlakukan buka tutup,'' kata Slamet.
Dengan kondisi seperti itu, Slamet juga menghimbau agar jamaah untuk lebih mempersiapkan diri dari segi fisik dan mentalnya untuk pelaksanaan proses puncak haji Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina).
Sebelum penarikan bis-bis tersebut, Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan bahwa pemerintah akan membentuk tim khusus yang bertugas menyelesaikan permasalahan jemaah selama berada di tanah suci, termasuk masalah transportasi. ''Kami akan membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah jemaah secara tuntas supaya jemaah bisa pulang dalam keadaan sehat dan dapat pengalaman menyenangkan selama di tanah suci,'' papar Menag usai rapat di Teknis Urusan Haji, di Jedah .
Diakui Menag, tim itu dibentuk karena selama ini banyak permasalahan yang muncul dan membutuhkan perhatian khusus baik yang berhubungan dengan pemondokan maupun transportasi. ''Dari masalah sengketa pemondokan, ketersediaan air di pemondokan, maupun masalah transportasi,'' katanya.
Diatakan Menag, sebanyak 28.917 anggota jemaah haji Indonesia yang bisa tinggal di pemondokan yang berada di kawasan Ring I dengan radius di bawah 1.400 meter dari Masjidil Haram. Sisanya, sebanyak 168.261 orang, tinggal di pemondokan yang berada di kawasan Ring II.
Pengawas dan pemantau haji dari Komisi VIII DPR pun meminta pada petugas untuk bisa lebih memperbaiki sistem transportasi jamaah ini pasca proses Armina.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar