Berada di Tanah Haram, khususnya di Masjidil Haram membuat orang tak mau kehilangan kesempatan sedikitpun untuk beramal, berbuat kebajikan, semata mengharap pahala dari Sang Pencipta. Kondisi ini saya rasakan saat berada di Masjidil Haram saat akan menunaikan Shalat Jumat.
Kebetulan pada Jumat (7/11) lalu, saya dan empat rekan Media Center Haji (MCH) Mekah lainnya, liputan di Sektor enam di Syauqiah dan Sektor 12 di wilayah Tan'im yang berjarak sekitar tujuh hingga delapan kilometer dari Masjidil Haram. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan, karena lokasi tempat liputan kami sudah dekat dengan Masjid Tan'im, salah satu tempat Miqod atau batas Tanah Haram. Usai liputan, kamipun ke Masjid Tan'im dan berniat Ihram untuk melakukan Ibadah Umrah.
Setelah mandi besar, shalat sunnah dan memantapkan niat Umrah di Masjid Tan'im, kamipun berangkat ke Masjidil Haram. Alhamdulillah, tiba di Masjidil Haram, waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Sementara Waktu Dhuhur adalah sekitar pukul 12.00 WAS. Kami berlima setelah masuk Masjidil Haram, langkung melakukan Tawaf. Mungkin karena hari Jumat, saat itu cukup padat jamah yang melakukan Tawaf.
Subhanallah, saat Tawaf inilah saya benar-benar melihat bagaimana jamaah berlomba-lomba berbuat kebajikan pada sesamanya, semata mengharap Ridho dari Allah SWT. Misalnya, tidak sedikit orang yang di kedua tangannya memegang masing-masing sekotak tisu saat bertawaf. Jadi siapapun dipersilahkannya untuk mengambil tisu yang dibawanya itu untuk sekedar membersihkan wajah dari keringat. Mereka tak peduli siapa, berkulit apa dan berasal dari negara mana, yang mengambil tisu darinya itu. Padahal, kebetulan salah satu yang saya lihat, orang yang membawa tisu ini kebetulan orang berkulit hitam dan dia sendiri bermandikan peluh.
Selain itu, beberapa jamaah lainnya, berdiri di pinggir jalur terluar orang bertawaf sembari memegang dua gelas air zamzam di tangan kanan dan kirinya. Sama, merekapun sembari sedikit berteriak, menawarkan air zamzam itu pada jamah yang tengah Bertawaf. Spontan tawaran air zamzam ini cepat 'laris' karena banyak peminatnya. Setelah dua gelas zamzam itu 'laris', orang itupun kembali mengambil zamzam di tempat deretan wadah besar air zamzam yang tak jauh dari tempat ia berdiri semula.
Tak jauh dari orang yang menawarkan air zamzam ini, berdiri orang Arab yang mengenakan gamis putih dan bersorban. Ia memegang mungkin puluhan Tasbih di tangannya dan dibagi-bagikan pada jamaah yang tengah bertawaf. Ia juga memegang satu botol kecil minyak wangi dan mengoleskannya pada punggung tangan jamaah yang sengaja menghampirinya. Subhanallah.
Melihat empat kejadian tersebut, terus terang, pikiran saya langsung 'terbang' ke negeri saya tercinta Indonesia. Saya langsung membayangkan betapa indahnya kita hidup damai berdampingan saling bantu dan saling menghargai. Tak ada tawuran, ribut-ribut, aksi demo yang berakhir dengan bentrok dan segala macam kekerasan yang saat ini marak di Indonesia. Apalagi saat ini kondisi negara kita sudah mulai memanas menjelang Pemilu 2009.
Alangkah indahnya bila semua pihak bisa sama-sama menahan diri, menahan emosi demi terciptanya hidup rukun dan damai dan penuh dengan rasa kebersamaan. Mungkin empat kejadian yang saya sampaikan tadi bisa menjadi contoh bagi kehidupan kita di Tanah Air. Bagaimana kita harus bersikap dalam menjalankan hubungan dengan sesama dan tentunya hubungan dengan Sang Pencipta.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar