Ahad (7/12) sekitar pukul 10.00 Waktu Arab Saudi (WAS), kami hampir seluruh Petugas Penyelengara Ibadah Haji (PPIH) telah berkumpul di tenda masjid di Padang Arafah. Tenda masjid berkukuran sekitar 30 kali 20 meter ini berdiri di engah-tengah tenda-tenda posko penerangan, tenda kesehatan dan tenda-tenda tempat kami para petugas bermalam. Saya beserta rekan-rekan Media Center Haji (MCH) dan seluruh petugas PPIH mulai memasuki Arafah sekitar pukul 17.00 WAS pada Sabtu (6/12).
Pagi itu (Ahad 7/12), kami dengan khusu' dan khidmat memulai prosesi rangklaian acara Wukuf di lokasi tenda misi haji Indonesia atau pusat tenda petugas haji. Wakil Kepala Daerah Kerja Mekah, Cepi Supriatna mulai memimpin jamaah dengan bacaan Istighfar dan Talbiyah. 'Labbaik Allah humma Labbaik, Labbaik ala Syarikala Labbaik, Innal Hamda, Wa Ni'mata Lakawal Mulk Laa Syarikalak'.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dubes Indonesia untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman, Salim Segaff Aldjufri. Suasana hening dan haru mulai terasa ketika Dubes mulai menegaskan betapa kotornya kita manusia, penuh dengan dosa. Betapa tak berdayanya kita manusia tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Betapa butuh dan tergantungnya kita dengan Sang Maha Pencipta, sementara Sang Khalik sama sekali tak mebutuhkan mahluk ciptaan-Nya. Betapa pedihnya siksa jika Sang Maha Pengampun enggan mengampuni dosa-dosa yang telah kita perbuat. Tak terasa, di sudut mata saya pun sudah mulai menggenang air mata yang siap menetes. Suara sesenggukan menangis pun mulai terdengar dari beberapa sudut masjidi yang penuh dengan petugas haji itu.
Amirul Hajj, Muhammad Maftuh Basyuni, pada kesempatan tersebut juga menyampaikan sambutannya. Menag berpesan pentingnya rasa persaudaran dalam kehidupan keseharian. Bahwa persaudaraan itu begitu mendalam dan meleburkan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok dalam wadah kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Dalam wadah tersebut, beragam suku dan kabilah, warna kulit dan ras hidup secara rukun dan damai, tanpa merasa dibeda-bedakan. Persaudaraan mereka diilustrasikan dalam sebuah hadis Rasul bagaikan seperti satu tubuh.
Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal tenggang rasa dan jalinan kasih sayang antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh menderita sakit maka bagian tubuh yang lain akan panas dan demam. ''Jika salah satu bagian dari mereka tersakiti, yang lain ikut merasakannya. Solidaritas dan kepedulian antara sesama di kalangan mereka begitu tinggi melampaui batas-batas kepentingan pribadi dan kelompok,'' kata Menag.
Dalam konteks ini Menag mengajak umat Islam untuk bersyukur. Berkat rahmat Allah swt NKRI sampai hari ini masih utuh dan mudah-mudahan hingga akhir zaman. Dewasa ini menurut Menag, bangsa Indonesia sedang menghadapi dua masalah besar yang kalau lengah akan menjadi petaka besar. Pertama, krisis global yang melanda dunia. Alhamdulillah pangan lebih dari cukup. Tinggal bangsa Indonesia harus bersatu padu, seiya sekata dalam menghadapi krisis ini sehingga mampu melampauinya dengan selamat. Kedua, suhu politik menjelang Pemilu legislatif dan Pilpres semakin terasa meningkat, bila tidak dikelola dan disikapi secara arif akan menimbulkan banyak persoalan.
Usai sambutan Menag sebagai Amirul Hajj, Naif (Wakil) Amirul Hajj KH Ma'ruf Amin pun menyampaikan Khutbah Wukuf. Intinya, pada saat wukuf inilah Insya Allah sang Khalik mengabulkan segala doa para hambanya. Karenanya dianjurkan untuk banyak berdoa dan mohon ampun pada-Nya.
Wukuf merupakan rukun haji yang terpenting. Perintah untuk meakukan wukuf dalam pelaksanaan haji terdapat dalam Alquran dan Sunah. Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 199 yang artinya 'Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, 'Haji adalah hari Arafah atau hari-hari Arafah'. Para ulama sepakat mengenai kedudukan wukuf sebagai rukun haji, sehingga orang yang meninggalkan ibadah ini, maka hajinya batal.
Usai menunaikan shalat Maghrib yang dijama' Takdim dan Qashar dengan Isya', kami pun seluruh petugas mulai bergeser ke Muzdalifah, untuk melaksanakan mabit atau diam sejenak hingga lewat tengah malam) di Muzdalifah.
n osa
Pagi itu (Ahad 7/12), kami dengan khusu' dan khidmat memulai prosesi rangklaian acara Wukuf di lokasi tenda misi haji Indonesia atau pusat tenda petugas haji. Wakil Kepala Daerah Kerja Mekah, Cepi Supriatna mulai memimpin jamaah dengan bacaan Istighfar dan Talbiyah. 'Labbaik Allah humma Labbaik, Labbaik ala Syarikala Labbaik, Innal Hamda, Wa Ni'mata Lakawal Mulk Laa Syarikalak'.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dubes Indonesia untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman, Salim Segaff Aldjufri. Suasana hening dan haru mulai terasa ketika Dubes mulai menegaskan betapa kotornya kita manusia, penuh dengan dosa. Betapa tak berdayanya kita manusia tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Betapa butuh dan tergantungnya kita dengan Sang Maha Pencipta, sementara Sang Khalik sama sekali tak mebutuhkan mahluk ciptaan-Nya. Betapa pedihnya siksa jika Sang Maha Pengampun enggan mengampuni dosa-dosa yang telah kita perbuat. Tak terasa, di sudut mata saya pun sudah mulai menggenang air mata yang siap menetes. Suara sesenggukan menangis pun mulai terdengar dari beberapa sudut masjidi yang penuh dengan petugas haji itu.
Amirul Hajj, Muhammad Maftuh Basyuni, pada kesempatan tersebut juga menyampaikan sambutannya. Menag berpesan pentingnya rasa persaudaran dalam kehidupan keseharian. Bahwa persaudaraan itu begitu mendalam dan meleburkan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok dalam wadah kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Dalam wadah tersebut, beragam suku dan kabilah, warna kulit dan ras hidup secara rukun dan damai, tanpa merasa dibeda-bedakan. Persaudaraan mereka diilustrasikan dalam sebuah hadis Rasul bagaikan seperti satu tubuh.
Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal tenggang rasa dan jalinan kasih sayang antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh menderita sakit maka bagian tubuh yang lain akan panas dan demam. ''Jika salah satu bagian dari mereka tersakiti, yang lain ikut merasakannya. Solidaritas dan kepedulian antara sesama di kalangan mereka begitu tinggi melampaui batas-batas kepentingan pribadi dan kelompok,'' kata Menag.
Dalam konteks ini Menag mengajak umat Islam untuk bersyukur. Berkat rahmat Allah swt NKRI sampai hari ini masih utuh dan mudah-mudahan hingga akhir zaman. Dewasa ini menurut Menag, bangsa Indonesia sedang menghadapi dua masalah besar yang kalau lengah akan menjadi petaka besar. Pertama, krisis global yang melanda dunia. Alhamdulillah pangan lebih dari cukup. Tinggal bangsa Indonesia harus bersatu padu, seiya sekata dalam menghadapi krisis ini sehingga mampu melampauinya dengan selamat. Kedua, suhu politik menjelang Pemilu legislatif dan Pilpres semakin terasa meningkat, bila tidak dikelola dan disikapi secara arif akan menimbulkan banyak persoalan.
Usai sambutan Menag sebagai Amirul Hajj, Naif (Wakil) Amirul Hajj KH Ma'ruf Amin pun menyampaikan Khutbah Wukuf. Intinya, pada saat wukuf inilah Insya Allah sang Khalik mengabulkan segala doa para hambanya. Karenanya dianjurkan untuk banyak berdoa dan mohon ampun pada-Nya.
Wukuf merupakan rukun haji yang terpenting. Perintah untuk meakukan wukuf dalam pelaksanaan haji terdapat dalam Alquran dan Sunah. Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 199 yang artinya 'Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, 'Haji adalah hari Arafah atau hari-hari Arafah'. Para ulama sepakat mengenai kedudukan wukuf sebagai rukun haji, sehingga orang yang meninggalkan ibadah ini, maka hajinya batal.
Usai menunaikan shalat Maghrib yang dijama' Takdim dan Qashar dengan Isya', kami pun seluruh petugas mulai bergeser ke Muzdalifah, untuk melaksanakan mabit atau diam sejenak hingga lewat tengah malam) di Muzdalifah.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar