Sebagai mahluk ciptaan-Nya, harapan kita sebagai manusia tentunya ingin seluruh doa-doa dan permohonan kita dikabulkan oleh Sang Pencipta. Demikian pula seluruh jamah haji yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Kesempatan beribadah di Masjidil Haram tentu tak akan disia-siakan. Seluruh umat Muslim memanfaatkan kesempatan beribadah dengan berdoa di tempat-tempat yang diriwayatkan merupakan tempat yang mustajab (Dijanjikan Dikabulkan doanya oleh Allah SWT). Antara lain di Multazam dan Hijir Ismail.
Pada Selasa (30/12) malam, saya dan rekan Azhar Aziz dari Harian Seputar Indonesia berniat untuk menunaikan shlat Maghrib dan Shalat Isya' di Masjidil Haram. Untuk pertamakalinya selama dua bulan di Mekah, saya bisa mendapatkan tempat shalat yang sangat dekat dengan Ka'bah. Hanya berjarak sekitar lima meter dari Ka'bah. Mungkin karena memang situasi di Masjidil Haram sudah tidak terlalu padat oleh jamaah, seiring banyaknya jamaah yang sudah meninggalkan kota Mekah.
Usai shalat Maghrib, saya dan Azhar langsung menunaikan Thawaf Sunnah. Kami sengaja memilih thawaf dengan posisi agak mendekat ke sisi Ka'bah. Karena kami berniat usai Thawaf akan langsung menuju Multazam dan kalau memungkinkan ke Hijir Ismail.
Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang mustajab (maqbul) untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Tertulis dalam Esniklopedi Haji dan Umrah bahwa dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Ibnu Abbas bahwa dia (ibnu Abbas) berada di antara pojok Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Rasulullah SAW mengatakan bahwasanya tempat yang terletak antara pintu Ka'bah dengan Hajar Aswad itulah yang dinamakan Multazam. Dan Allah SWT akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa di Multazam itu (HR al Baihaqi).
Ibnu Abbas ra juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Jibril as mengamini doaku pada pintu Ka'bah sebanyak dua kali. Dalam riwayat lain dikemukakan, Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya, ''manakah yang paling baik?'' Aisyah menjawab,'' Allah dan Rasulnya lebih mengetahui, ya Rasulullah sepertinya engkau menghendaki antara rukun (sisi Ka'bah tempat terletaknya Hajar Aswad) dan maqam?''
Rasulullah bersabda, ''Engkau benar, sesungguhnya tempat yang paling baik, paling suci, paling bersih dan paling dekat bagi Allah SWT adalah apa yang berada antara rukun dan maqam, di mana di antara rukun dan maqam itu terdapat sebuah taman di antara taman-taman surga''. Banyak hadist-hadist senada lainnya yang menerangkan tentang keutamaan Multazam dan makbulnya berdoa di Multazam yang diriwayatkan dari thuruq atau jalur yang berbeda.
Alhamdulillah kami berhasil memanjatkan doa di Multazam, walau tak berhasil menempelkan tubuh kami di dinding Ka'bah. Karena banyaknya jamaah yang berebut, saya dan Azhar hanya bisa sekedar menyentuh dinding dan pintu Ka'bah dengan tangan kanan. Sekitar 10 menit kami berdoa di Multazam. Karena situasi yang berdesak-desakan, kami pun bergeser menuju Hijir Ismail untuk melakukan shalat sunnah dan juga kembali memanjatkan doa.
Hijir Ismail adalah sebidang lahan berbentuk setengah lingkaran yang terletak di sebelah utara Ka'bah. Bagian dalam Hijir Ismail berbatasan langsung dengan dinding Ka'bah antara Rukun Syami (sudut sebelah arah Syam) dan Rukun Iraqi (sudut sebelah arah Iraq). Sedangkan bagian luarnya yang berbentuk melingkar setengah lingkaran dipagari dengan tembok rendah yang dinamakan al Hatim sekitar enam meter dari dinding Ka'bah, di bawah al mizab (talang/pancuran air).
Hijir Ismail sering dijadikan sebagai tempat shalat dan tempat memunajatkan doa kpada Allah SWT. Tempat ini diyakini sebagai salah satu dari beberapa tempat yang mustajab (tempat doa dikabulkan) di samping tempat lainnya seperti Multazam. Para ulama memasukkan Hijir Ismail sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Doa yang biasa diucapkan di Hijir Ismail adalah: ''Ya Tuhanku, aku datang kepada-Mu dari belahan bumi yang jauh dengan harapan memperoleh kebaikan-Mu, suatu kebaikan yang cukup sehingga aku tidak mengharapkan kebaikan dari selain-Mu, wahai pemberi kebaikan.''
Walau sedikit berdesakan, kami secara bergantian bisa menunaikan shalat sunnah di Hijir Ismail ini. Pasalnya, kami harus saling menjaga dari belakang, saat salah satu dari kami melakukan shalat. Jika tidak, desakan atau dorongan dari belakang tentunya akan sangat menganggu shalat
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar