Selasa, 13 Desember 2011

Mabrur, Haji 2008

Jamaah haji Indonesia usai sudah melaksanakan hampir seluruh prosesi Rukun Islam kelima, ibadah haji. Saya katakan 'hampir', karena jamaah baru akan melakukan Thawaf Wada' atau Thawaf pamitan seiring dengan jadwal kepulangan jamaah dari Mekah ke tanah air melalui Jedah ataupun Madinah.

Namun seluruh jamaah hampir dipastikan telah selesai melaksanakan proses puncak ibnadah haji. Yaitu wukuf di Padang Arafah, Mabit di Muzdalifah, Mabit di Mina, Lontar Jumrah serta Thawaf Ifadhal, Sa'i dan Tahallul.

Selepas prosesi Armina, saya amati cara berpakaian jamaah atau kostum yang dikenakan jamaah terutama pria pun berubah. Yang semula pada saat berangkat dari tanah air, jamak menggunakan peci hitam, saat ini banyak di antara jamaah yang mengenakan baju koko ataupun jubah putih, lengkap dengan peci atau 'kupluk' warna putih. Hampir di seluruh wilayah Indonesia, 'kupluk' putih ini dianggap sebagai tanda bahwa si pemakai adalah seorang haji atau baru saja menunaikan ibadah haji.

Status di lingkungan masyarakatnya pun, mereka menganggap akan naik derajatnya. Setidaknya di lingkungan tetangga, lingkungan masjid dan kampung, mereka dipanggil sebagai Pak Haji dan Bu Hajjah. Status atau derajat yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta tentunya lebih agung dan lebih luhur dibanding status yang diberikan oleh lingkungan tetangga atau lingkungan masyarakat dan masjid.

Rasulullah SAW menyebutkan satu istilah, yaitu Mabrur atau haji Mabrur melalui beberapa hadistnya untuk menunjukkan makna haji yang baik dan sempurna. Istilah haji Mabrur tidak dikenal dan tidak dijumpai dalam Kitab Alquran. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya, Apakah amalan yang paling utama, dan Rasulullah SAW menjawab 'Beriman kepada Allah SWT. Kemudian sahabat bertanya lagi, lalu apa? dijawab Rasulullah jihad pada jalan Allah. Kemudian sahabat bertanya lagi, lalu apa? dijawab kembali oleh Rasulullah SAW, Haji Mabrur (HR Bukhari Muslim).

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah, kata Mabrur beraal dari kata barra, yang maknanya surga, benar, diterima, pemberian, keluasan dalam kebajikan. Tak mudah untuk mencapai haji Mabrur. Diperlukan kebersihan dan kesempurnaan rangkaian kegiatan haji mulai dari awal hingga akhir.

Dimulai dari niat yang ikhlas karena memenuhi panggilan Allah semata, bukan karena motivasi lainnya walaupun kecil. Belum lagi biaya yang dipergunakan untuk pelaksanaan haji dan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan haruslah berasal dari rejeki yang halal dan baik (Alhamdulillah, Insya Allah haji saya jamak disebut orang sebagai Haji Abidin atau atas biaya dinas). Kemudian tentunya diikuti dengan usaha yang maksimal untuk mempelajari tata cara pelaksanaan haji sesuai dengan Sunah Rasulullah SAW. Serta diwujudkan dengan melaksanakan ibadah haji dengan sebaik mungkin.

Jamaah haji yang berhasil memperoleh haji mabrur akan mendapatkan manfaat yang banyak dalam kehidupannya. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam hadist yang diriwayatkam Al Thabrani dan Al Mundziri, Rasulullah SAW bersabda, 'Bahwa Allah SWT berfirman Hamba-hambaku datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru, mereka mengharapkan Surga-Ku'. Seandainya dosa-dosamu sebanyak butir di pasir, atau tetes-tetes hujan atau buih di lautan, pastu Aku ampuni.

Memperoleh haji Mabrur sama 'sulitnya' dengan memeliharanya. Justru di sinilah seorang Pak Haji atau Bu Hajjah bisa dinilai oleh masyarakat di lingkungannya, menjadi haji Mabrur-kah ia (atau menjadi yang seperti rekan saya katakan, Haji 'Tomat', sekarang Tobat, besok Kumat, Naudzubillah). Berubahkah sikap mereka sebelum berangkat haji dengan setelah pulang haji nanti. Haji Mabrur tentunya harus tetap dipelihara dengan cara menerapkan dalam kehidupan keseharian segala hikmah dan pelajaran yang terkandung dalam rangkaian ibadah haji.

Mudah-mudahan seluruh jamaah haji Indonesia dan kita semua bisa mendapatkan Haji Mabrur ini. Amin

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar