Selasa, 13 Desember 2011

Pondokan, Haji 2008


Untuk mencapai pondokan, jamaah harus melalui jalan sempit atau tepatnya gang yang tak bisa dilewati mobil. Lokasi sekitar pondokan juga kumuh dan kotor. Jamaah kloter 38 embarkasi Solo ditempatkan di pondokan nomor 241, Sektor 15, Misfalah, Mekah. Mungkin 'kelebihannya' karena berada di Sektor 15, pondokan ini masuk dalam kategori ring 1 atau berjarak kurang dari 1400 meter dari Masjidil Haram.

Secara sepintas, saya bandingkan di sekitar lokasi itu, pondokan untuk jamaah Pakistan dan Bangladesh jauh lebih baik dari kondisi pondokan 241 tersebut. Setelah saya masuk ke dalam pondokan, 'segudang' permasalahan jamaah saya temui. Mulai AC yang mati atau rusak, lantai yang kotor, penumpukan jamaah dalam satu kamar serta air kamar mandi yang kondisinya mati hidup. Belum lagi pihak maktab atau penjaga pondokan yang mengisi galon-galon air minum untuk jamaah dengan air kran kamar mandi.

Kondisi pondokan 241 hampir sama dengan kondisi pondokan 242 yang hanya berjarak beberapa meter. Diperparah dengan tak ada tempat atau lokasi untuk menjemur pakaian. Sehingga jamaah terpaksa menjemur pakaian di dapur yang sudah sempit atau di kamar. Kondisinya pun layaknya sebuah barak pengungsian. Ada beberapa pondokan lagi di Sektor 13 dan 14 yang kondisinya tak jauh beda.

Pantauan rekan MCH lainnya, ada pondokan jamaah di wilayah Mahattath Bank, yang ternyata terdapat sekitar delapan jamaah yang tidak kebagian kamar dan terpaksa tidur di luar kamar dengan beralas tikar, tanpa kipas angin apalagi AC. Pasrah, mungkin itu yang 'hanya' bisa dilakukan oleh jamaah.

Sementara pada Senin (15/12), jamaah haji yang tinggal di pondokan nomor 343 Mekah, melakukan unjukrasa di depan pondokan karena tidak mendapat suplai air dalam 24 jam terakhir. Kondisi kesulitan air sudah dialami rumah 343 sejak sebelum Armina. Pemilik pondokan menurut para jamaah, kurang peduli dengan kondisi keterbatasan air tersebut. Pondokan ini berisi sekitar 1000 jamaah lebih yang berasal dari empat kloter.

Berawal dari krisis air ini, ternyata kondisi pondokan juga baru ketahuan jika ada satu ruangan semacam ruangan aula berukuran sekitar 8 kali 10 meter yang terpaksa digunakan sebagai kamar dan diisi oleh 48 orang jamaah pria dan wanita.

Banyak pondokan yang kondisinya lebih bagus. Bahkan banyak yang jauh lebih bagus, namun jaraknya jauh bahkan sangat jauh dari Masjidil Haram. Inipun diakui oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. Dikaui Menag bahwa penyelenggaraan haji 1429 H (2008) memang dapat dikatakan sukses. Tetapi sukses yang diraih ada catatannya. Terutama masalah pemondokan yang jauh dan akhirnya merembet pada masalah transportasi.

Tekad Menag adalah memperbaiki kondisi pondokan jamaah haji tahun depan. Untuk itu Menag akan mengambil alih dan terjun langsung dalam mencari atau menangani pondokan jamaah. ''Saya menyesal dengan 'sukses dengan catatan' itu, karena itu tahun ini harus merupakan 'tahun sukses dengan catatan' yang terakhir,'' tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Menag menerima sejumlah saran dari wartawan untuk perbaikan penyelenggaraan haji berikutnya. Di antaranya perlunya Pusat Informasi, penempatan personel TNI/Polri bukan hanya sekedar petugas keamanan tapi juga menjadi pemimpin di sektor atau kloter, dan perlunya mengurangi jemaah risiko tinggi (risti).

Ditegaskan Menag bahwa sejak 1427 H (2006) telah dilakukan perbaikan pelayanan ibadah haji. Namun hingga kini harapan itu belum kunjung tiba. ''Tahun 2009 (1430 H), (penyelenggaraan haji) saya pegang sendiri. Saya akan ajak teman-teman yang biasa diajak lari untuk memperbaiki sistem perhajian,'' tegasnya.

Ditegaskan Menasg, dirinya tak mau jatuh ke lubang yang sama. Artinya ia tidak ingin tahun depan pondokan jamaah haji Indonesia jauh bahkan sangat jauh dari Masjidil Haram.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar