Kami, tujuh wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Mekah, tiba di Mekah pada 3 November 2008 lalu. Seperti Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) lainnya yang bertugas di Daerah Kerja (Daker) Mekah, kami tinggal dan 'berkantor' di Daker Mekah atau Wisma Haji di wilayah Aziziah Zanubiyah, Mekah. Sekitar tiga kilometer dari Masjidil Haram. Kecuali petugas PPIH yang bertugas di sektor-sektor, yaitu sektor satu hingga 17.
Kantor Daker Mekah terdiri dari dua gedung atau bangunan empat setengah lantai. Satu gedung digunakan sebagai Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) termasuk ruangan atau kamar rawat inap, ruang periksa, ruang praktek dokter dan lainnya. Persis di samping gedung BPHI terletak kamar jenazah yang persis bersebelahan dengan ruang gudang ATK (alat tulis kantor).
Sementara gedung lainnya, pada lantai dasar digunakan untuk pelayanan jamaah seperti Sekretariat, Ruang Bimbingan Ibadah, Pelayanan Keamanan (PAM), Pelayanan Kedatangan Kepulangan (Yanpul), ruang rapat serta ruang MCH. Sementara lantai dua hingga lantai empat merupakan kamar-kamar para petugas menginap selama di Mekah ini. Sedangkan di lantai lima merupakan tempat untuk menjemur pakaian, dapur katering sekaligus ruang makan bagi kami para petugas. Kami bertujuh mendapatkan kamar tidur di lantai tiga dengan tingkat terbuat dari besi dengan alas kasur busa ditopang alas kawat-kawat per pada ranjang.
Sementara ruang kerja MCH berada di lantai dasar. Kami mendapatkan dua ruangan yang kami gunakan sebagai kantor atau tempat kami bekerja menulis dan mengirim berita. Baik dalam bentuk audio, audio visual, foto maupun tulisan. Ruang utama yang berukuran sekitar dua kali dua meter atau tepatnya sekitar dua setengah kali dua setengah meter, posisinya terletak di bagian depan gedung. Sementara satu ruangan lagi berukuran empat kali empat meter terletak dekat dengan ruang utama.
Sejak awal, saya, Azhar Azis (Sindo), Pandu Dewantara (Antara), Rustian Al Anshori, Mandala Yudi (RRI) serta Harwin dan Yuni Eko Sulistiono (RCTI), memilih ruang utama yang berukuran sekitar 2,5 kali 2,5 meter itu sebagai ruang kerja kami. Sementara ruang MCH lainnya lebih banyak dimanfaatkan oleh petugas PPIH lainnya. Karena di ruangan tersebut tersedia dua PC terkoneksi internet.
Walaupun hanya berukuran 2,5 kali 2,5 meter, kami bertujuh merasa nyaman bekerja di ruangan ini. Saluran koneksi internet lima kanal dilengkapi sebuah printer yang disediakan oleh Wakil Koordinator MCH Arab Saudi bidang IT, Gufron, cukup memadai dan sangat membantu kerja kami. Kami pun bekerja dengan laptop yang kami bawa masing-masing plus dua laptop milik PPIH.
Dari ruang kecil nan hangat serta berasap (karena lima di antara kami merupakan perokok. Hanya saya dan Rustian yang tidak merokok) inilah kami turut berpartisipasi dalam pemberitaan kegiatan jamaah haji Indonesia dan segala macam permasalahan serta pernak-perniknya selama berada di Mekah.
Walau kami bertujuh merupakan bagian dari PPIH, namun sejak awal kami bertekad untuk tetap menjaga netralitas liputan, tidak memihak, mengungkap fakta apa adanya, tidak ditutup-tutupi.
Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni saat masih di tanah air juga menekankan pada seluruh tim MCH Arab Saudi (Jedah, Mekah dan Madinah) yang berjumlah 27 orang wartawan untuk mengungkapkan fakta apa adanya yang terjadi di lapangan. Fakta dan kondisi sebenarnya yang dialami oleh jamaah haji Indonesia selama di Arab Saudi ini. Menag tidak pernah meminta kami untuk hanya sekedar memberitakan yang bagus-bagus saja atau menutup-nutupi yang jelek-jelek.
Atas pesan Pak Menteri itulah kami berusaha bekerja profesional. Masalah-masalah yang dihadapi jamaah seperti beberapa kondisi pondokan yang tak layak, katering atau makanan dari pihak Muasasah yang terlambat, serta transportasi bus yang kadang terlambat juga kami tampilkan apa adanya. Tentunya di satu sisi kami juga menampilkan kondisi pondokan yang ternyata banyak yang bagus-bagus walaupun sebagian besar letaknya jauh, angkutan transportasi yang tepat waktu, pelayanan kesehatan yang maksimal dan lainnya. Bahkan Menag juga mengakui bahwa penyelenggaraan haji tahun ini dinilai sukses dengan beberapa catatan yang harus diperbaiki pada penyelenggaraan haji tahun depan.
n osa
Kantor Daker Mekah terdiri dari dua gedung atau bangunan empat setengah lantai. Satu gedung digunakan sebagai Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) termasuk ruangan atau kamar rawat inap, ruang periksa, ruang praktek dokter dan lainnya. Persis di samping gedung BPHI terletak kamar jenazah yang persis bersebelahan dengan ruang gudang ATK (alat tulis kantor).
Sementara gedung lainnya, pada lantai dasar digunakan untuk pelayanan jamaah seperti Sekretariat, Ruang Bimbingan Ibadah, Pelayanan Keamanan (PAM), Pelayanan Kedatangan Kepulangan (Yanpul), ruang rapat serta ruang MCH. Sementara lantai dua hingga lantai empat merupakan kamar-kamar para petugas menginap selama di Mekah ini. Sedangkan di lantai lima merupakan tempat untuk menjemur pakaian, dapur katering sekaligus ruang makan bagi kami para petugas. Kami bertujuh mendapatkan kamar tidur di lantai tiga dengan tingkat terbuat dari besi dengan alas kasur busa ditopang alas kawat-kawat per pada ranjang.
Sementara ruang kerja MCH berada di lantai dasar. Kami mendapatkan dua ruangan yang kami gunakan sebagai kantor atau tempat kami bekerja menulis dan mengirim berita. Baik dalam bentuk audio, audio visual, foto maupun tulisan. Ruang utama yang berukuran sekitar dua kali dua meter atau tepatnya sekitar dua setengah kali dua setengah meter, posisinya terletak di bagian depan gedung. Sementara satu ruangan lagi berukuran empat kali empat meter terletak dekat dengan ruang utama.
Sejak awal, saya, Azhar Azis (Sindo), Pandu Dewantara (Antara), Rustian Al Anshori, Mandala Yudi (RRI) serta Harwin dan Yuni Eko Sulistiono (RCTI), memilih ruang utama yang berukuran sekitar 2,5 kali 2,5 meter itu sebagai ruang kerja kami. Sementara ruang MCH lainnya lebih banyak dimanfaatkan oleh petugas PPIH lainnya. Karena di ruangan tersebut tersedia dua PC terkoneksi internet.
Walaupun hanya berukuran 2,5 kali 2,5 meter, kami bertujuh merasa nyaman bekerja di ruangan ini. Saluran koneksi internet lima kanal dilengkapi sebuah printer yang disediakan oleh Wakil Koordinator MCH Arab Saudi bidang IT, Gufron, cukup memadai dan sangat membantu kerja kami. Kami pun bekerja dengan laptop yang kami bawa masing-masing plus dua laptop milik PPIH.
Dari ruang kecil nan hangat serta berasap (karena lima di antara kami merupakan perokok. Hanya saya dan Rustian yang tidak merokok) inilah kami turut berpartisipasi dalam pemberitaan kegiatan jamaah haji Indonesia dan segala macam permasalahan serta pernak-perniknya selama berada di Mekah.
Walau kami bertujuh merupakan bagian dari PPIH, namun sejak awal kami bertekad untuk tetap menjaga netralitas liputan, tidak memihak, mengungkap fakta apa adanya, tidak ditutup-tutupi.
Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni saat masih di tanah air juga menekankan pada seluruh tim MCH Arab Saudi (Jedah, Mekah dan Madinah) yang berjumlah 27 orang wartawan untuk mengungkapkan fakta apa adanya yang terjadi di lapangan. Fakta dan kondisi sebenarnya yang dialami oleh jamaah haji Indonesia selama di Arab Saudi ini. Menag tidak pernah meminta kami untuk hanya sekedar memberitakan yang bagus-bagus saja atau menutup-nutupi yang jelek-jelek.
Atas pesan Pak Menteri itulah kami berusaha bekerja profesional. Masalah-masalah yang dihadapi jamaah seperti beberapa kondisi pondokan yang tak layak, katering atau makanan dari pihak Muasasah yang terlambat, serta transportasi bus yang kadang terlambat juga kami tampilkan apa adanya. Tentunya di satu sisi kami juga menampilkan kondisi pondokan yang ternyata banyak yang bagus-bagus walaupun sebagian besar letaknya jauh, angkutan transportasi yang tepat waktu, pelayanan kesehatan yang maksimal dan lainnya. Bahkan Menag juga mengakui bahwa penyelenggaraan haji tahun ini dinilai sukses dengan beberapa catatan yang harus diperbaiki pada penyelenggaraan haji tahun depan.
n osa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar