Selasa, 13 Desember 2011

Madinah-Mekah, Haji 2008


Kamis pekan lalu, saya bersama rekan dari RRI, Rustian Al Anshori dan Mandala Yudi ingin pulang dari Madinah menuju Mekah dengan menggunakan angkutan umum. Kebetulan empat rekan kami masih ingin tinggal di Madinah sehari lagi. Saya pikir apa salahnya kami bertiga naik angkutan umum menunju Mekah.

Pilihan pun jatuh pada bus antar kota Saptco. Perusahaan milik pemerintah Arab Saudi ini selain melayani angkutan dalam kota, juga melayani angkutan bus antar kota dan bus charter. Mungkin kalau di Indonesia seperti bus Damri. Kebetulan kantor pusat sekaligus terminal dan pelayanan tiket bus Saptco ini juga hanya berjarak sekitar 40 meter dari Hotel tempat Daker Madinah sekaligus tempat kami menginap selama di Madinah.

Persis di depan kantor tempat pelayanan tiket, berjajar taksi-taksi dengan jenis kendaraan sedan lumayan mewah yang menawarkan mengangkut kami ke Mekah. Belakangan kami ketahui tarif per orang untuk taksi dari madinah ke Mekah 50 real (142.500 rupiah dengan kurs 2850 per real). Namun mereka baru mau berangkat jika jumlah penumpang sudah mencapai minimal empat orang. Banyak rekan yang memberitahu kami sebelumnya, selain lebih murah sedikit, juga bisa lebih cepat. Jarak Madinah-Mekah yang sekitar 550 kilometer bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari empat atau bahkan tiga setengah jam.

Namun karena harus menunggu satu penumpang lagi yang belum bisa dipastikan kami harus menunggu berapa lama, pilihan pun tetap pada bus Saptco. Kebetulan jadwal berangkat bus ke Mekah yang terdekat saat itu adalah pukul 12.00 WAS. Sementara saat itu sudah pukul 11.45 WAS. Tiga tiket pun kami beli dengan harga tiket perorang 55 real.

Bus yang kami tumpangi cukup mewah dan nyaman, hampir sama dengan bus-bus antarkota milik swasta di Indonesia. Kebetulan pengemudi bus juga orang Indonesia. Walau jmlah penumpang saat itu sekitar 15 orang, bus tetap berangkat sesuai jadwal, yaitu pukul 12.00 WAS.

Jalan antarkota Madinah Mekah cukup mulus dan cenderung jalan lurus. Terdapat tiga jalur kendaraan untuk masing-masing arah, yang dipisahkan hanya dengan pagar kawat serta jalur coklat(bukan jalur hijau, karena pembatas jalan di bagian tengah adalah pasir).

Tidak seperti jalan-jalan antarkota di Indonesia, di Arab Saudi ini saya hanya bisa menimmati padang pasir, gurun pasir serta padang batuan serta gunung batu sepanjang perjalanan. Kecepatan bus saya perkirakan rata-rta 90 kilometer perjam. Menurut salah seorang mukimin yang saya temui di dalam bus, memang kalau pengemudinya orang Indonesia, cenderung sangat berhati-hati, sehingga benar-benar menjaga kecepatan. Sehingga biasanya perjalanan Madinah-Mekah bisa mencapai enam jam. Namun kalau pengemudinya orang Arab Saudi, kata mukimin ini, rata-rata suka ngebut, sehingga biasanya tidak sampai lima jam sudah tiba di Mekah.

Jalan raya Madinah-Mekah selain beraspal mulus, juga jalannya cenderung lurus. Ibarat jalan tol di Indonesia. Sayangnya, tempat peristirahatan yang ada, saya lihat cenderung apa adanya dan sangat sederhana. Tidak seperti kondisi tempat peristirahatan jalan tol di Jalan Tol Jakarta-Cikampek-Cipularang, jalan yang saya sering lewati jika saya pulang ke rumah di Purwakarta. Di mana SPBU dan tmpat istirahat, masjid dan tempat makanan sangat memadai bahkan mungkin bisa dikatakan mewah.

Setelah tiga jam perjalanan, bus yang kami tumpangi berhenti istirahat di salah satu tempat peristirahatan. Kondisinya sangat memprihatinkan, Mulai dari kondisi kamar kecilnya, kondisi bengkel yang sangat darurat. Parahnya, restoran atau mungkin tepatnya disebut warung penjual makanan di tempat peristirahatan ini hanya satu-satunya, dengan menu masakan India. Padahal banyak bus-bus antarkota yang memanfaatkan lokasi ini untuk tempat istirahat bagi penumpangnya. Di lokasi ini juga tidak tersedia SPBU.

Akhirnya karena tidak ada pilihan makanan, kamipun setelah berjuang antre panjang, bisa mendapatkan tiga porsi makanan. Menunya, masing-masing yaitu sepotong ayam bakar, nasi putih serta sayur atau semacam tumis wortel dan kacang panjang. Harga perporsi sepuluh real. Lumayan enak, mungkin karena kami juga sangat lapar saat itu. Setelah beristirahat di tempat itu sekitar setengah jam, bus yang mengangkut kami mlanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul setengah enam petang, kami memasuki kota Mekah. Tepat saat adzan Maghrib, kami tiba di tempat pemberhentian akhir bus ini, di terowongan tepat di bawah Masjidil Haram. Dari Masjidil Haram kami bertiga 'nyambung' dengan taksi dengan ongkos sepuluh real untuk ke Daker Mekah atau tempat kami tinggal semalam di Mekah ini. Alhamdulillah, setelah enam jam perjalanan dari Madinah, kami tiba di Daker Mekah.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar