Selasa, 13 Desember 2011

Jamarat, Haji 2008

Saya dan enam rekan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Mekah memilih untuk mengambil Nafar Awal dalam melontar Jamarat atau Jumrah. Agar lebih leluasa dalam melakukan tugas peliputan, kami pun juga sepakat untuk melakukan Thawaf Ifada dan Sa'i serta Tahalul terlebih dahulu, usai mabit di Muzdalifah, sebelum melakukan lontar Jumrah. Sehingga kami bisa lepas Ihram terlebih dahulu setelah selesai melakukan Tahalul dan melaksanakan Lontar Jumrah dengan pakaian biasa. Tentunya setelah sebelumnya kami berkonsultasi ibadah dengan sejumlah kyai termasuk pembimbing ibadah Depag, Nunun Firdaus.

Lontar Jumrah pertama yang hanya melontar Jumrah Aqobah, kami lakukan pada Senin petang (9/12) lalu. Kami tim MCH Mekah berangkat dari Wisma Haji dengan kendaraan operasional MCH, tentunya dengan pengemudi setia kami, Pak Deden asli Tasikmalaya. Situasi jalanan sudah terasa macet sekitar dua kilometer menjelang tiba di tempat Lontar Jumrah, Mina. Kamipun tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan kendaraan, kebetulan Wisma Haji 2 berada beberapa meter di depan saatkami mulai terjebak macet. Akhirnya kami putuskan untuk memarkir kendaraan di Wisma Haji 2 dan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, banyak jamaah dari seluruh dunia sudah melakukan mabit dengan duduk-duduk di tepi jalan, bahkan tak sedikit yang tengah tertidur lelap. Mungkin kelelahan setelah melakukan Lontar Jumrah pertama pada dinihari. Banyak juga yang mendirikan tenda-tenda semacam tenda kemping di bukit-bukit dekat lokasi Jamarat.

Sayangnya di sekitar lokasi Jamarat, tidak ada tanda-tanda penunjuk arah jalan. Sehingga banyak jamaah yang 'tersesat' atau kebablasan jalan, sementara akses masuk ke lokasi Jamarat jika dari arah kota Mekah, melalui jalan ke bawah, yang sepintas tidak begitu terlihat. Kami pun sempat kebablasan sekitar 100 meter sebelum akhirnya kami berbalik arah lagi.

Secara keseluruhan bangunan lontar Jumrah baru rampung sekitar 70 persen. Dari lima lantai lokasi Lontar Jumrah, tiga lantai sudah bisa digunakan oleh sekitar tiga juta jamaah haji dari seluruh dunia tahun ini. Jalan masuk dan keluar menuju lokasi, sangat lebar, sekitar 40 hingga 50 meter. Arus masuk dan keluar jamaah pun diatur satu arah. Hampir setiap jarak lima hingga 10 meter, tedapat petugas yang berjaga-jaga. Hebatnya, petugas di Mina ini bukan lagi askar, namun tentara Arab Saudi lengkap dengan pakaian lorengnya.

Lokasi tempat jumrah Wustha, Ula dan Aqobah pun sangat luas, besar dan tinggi. Jarak antara jumrah satu dan lainnya sekitar 160 meter. Sementara lebar lokasi jumrah sekitar 50 hingga 60 meter, dengan ketinggian atap sekitar 15 hingga 20 meter, tanpa dinding. Sehingga angin dengan leluasa bisa menerpa jamaah dengan bebasnya. Belum lagi ditambah banyaknya mesin pendingin dengan ukuran sangat besar terletak di langit-langit. Lampu neon sebagai sarana penerangan pun sangat banyak dan berjejer rapi dan rapat di langit-langit.

Tembok atau dinding tempat lontar Jumrah berbentuk tiang besar panjang dengan ukuran lebar sekitar dua meter dan panjang sekitar 25 meter. Dinding tempat orang melempar batu dilapis batu-batu persegi kecil berbentuk lempeng, yang memungkinkan lontaran batu jamaah tidak akan memantul jauh dan hampir bisa dipastikan tidak akan keluar dari areal 'penampung' batu, sehingga tidak membahayakan jamaah lainnya.

Karena luasnya lokasi, walaupun jamaah yang melakukan lontar jumrah pada saat yang bersamaan, namun sama sekali tak terasa padat. Kami pun bisa dengan sangat leluasa melakukan jumrah.

Usai melontar jumrah pertama, yaitu hanya Jumrah Aqobah, kami pun berjalan menuju arah keluar bersama seluruh jamaah lainnya. Tentara penjaga tidak akan mebiarkan jamaah berdiam lama-lama di sekitar lokasi jumrah. Tentunya untuk memberikan kesempatan bagi jamaah lainnya untuk melontar.

Kondisi minimnya petunjuk arah di sekitar lokasi Lontar Jumrah, membuat lumayan banyak jamaah termasuk jamaah haji Indonesia yang kebingungan. Petugas haji Indonesia juga tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi Jumrah. Hanya saja aparat penjaga tidak memperkenankan jamaah atau seseorang berdiam atau berdiri lama di satu tempat. Mereka spontan akan mengusir dan menyuruh terus berjalan. Sehingga petugas haji Indonesia juga harus 'kucing-kucingan' dengan tentara penjaga.

n osa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar