Selasa, 13 Desember 2011

Ketika DPR Temukan Pondokan Jamaah di Bawah Standar


Dari ratusan pondokan jamaah haji Indonesia yang tersebar di sejumlah wilayah, setidaknya ditemukan satu di antaranya ternyata di bawah standar yang telah ditetapkan. Ini terungkap saat tim pengawas penyelenggaraan ibadah haji 2008 yang beranggotakan 10 anggota Komisi VIII DPR dipimpin Said Abdullah, Wakil Ketua Komisi, mengunjungi tiga pondokan jamaah yang terpisah di tiga wilayah di Mekah pada Kamis (20/11)

Tim yang beranggotakan sepuluh anggota Komisi VIII DPR tersebut menginjakkan kaki pertama kali di pemondokan nomor 301 di wilayah Aziziah Syissa, sekitar 150 meter dari Masjidil Haram. Rumah tersebut dihuni jamaah haji Indonesia asal kelompok terbang (kloter) Demak Embarkasi SOC (Solo).
Di lantai pertama pemondokan tersebut, tidak ada kejanggalan yang ditemukan. Tim lebih banyak berdialog terkait kondisi jamaah dengan dikerumuni petugas kloter dan jamaah haji penghuni pemondokan. Namun ketika rombongan naik ke lantai empat, mulailah tercium bau tak sedap.

Bau yang sangat menyengat itu ternyata bersumber dari toilet yang letaknya bersebelahan dengan kamar-kamar yang dihuni jamaah. engawas DPR yang didampingi empat orang sekretaris komisi dan satu staf ahli. Rombongan DPR pun langsung menyebar dan memasuki kamar-kamar jamaah seraya menanyakan sumber bau tidak sedap tersebut. ”Ini bau bersumber dari mana? Sudah berapa lama seperti ini?” tanya anggota tim dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Badriyah Fayumi kepada jamaah yang ditemui di kamar.

Pertanyaan sama pun dilontarkan hampir semua tim saat mencium bau tidak sedap tersebut. Jamaah pun mengeluhkan kondisi tersebut dan mengadu kepada DPR agar menjadi perhatian mengingat keberadaan mereka di Mekkah masih lama. ”Kami minta tolong persoalan ini diperhatikan Pak,” tandas seorang jamaah. Permintaan ini spontan dijawab oleh Said Abdullah bahwa itu sudah akan menjadi catatan tim pengawas DPR tersebut.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Zainal Abidin Supi dan Wakadaker Cepi Supriatna mendampingi peninjauan oleh anggota DPR tersebut. Setelah ditelusuri, kamar mandi di lantai 4 tersebut digunakan sekitar 30 jamaah haji. Masalah tersebut pun menjadi perhatian dari para Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) dan kemungkinan ada pipa pembuangan yang bocor.

Sementara Di pondokan kedua yang dikunjungi, di wilayah Misfallah Bakhutmah tidak ditemukan kejanggalan. Selanjutnya rombongan melakukan peninjauan pondokan di Sektor enam di wilayah Syauqiah. Walau terletak sekitar enam kilometer dari Masjidil Haram, namun pondokan di Syauqiah ini rata-rata adalah bangunan baru.

Usai melakukan survei ke tiga rumah tersebut, Said Abdullah hanya memprihatinkan kondisi jamaah di pemondokan pertama yang dikunjungi. ”Yang paling mengenaskan adalah pondokan nomor 301 di Aziziah Syissa. Fasilitasnya jauh di bawah standar bahkan menurut saya tidak layak huni. Kamar mandi mampet dan mengeluarkan bau hingga ke kamar. PPIH harus memperbaiki fasilitas kamar tersebut,” tandasnya.

Dikatakan Said yang dari Fraksi PDIP tersebut, catatan itu akan menjadi masukan kepada DPR dan Menteri Agama pada rapat kerja 27 November mendatang. Salah satu masukan kepada Menag nantinya juga masalah persiapan pemondokan dengan membentuk Panitia Kerja Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (Panja BPIH) lebih cepat. ”Semakin cepat pembahasan BPIH, semakin siap dan semakin mudah kita mencari rumah, transportasi, dan katering,” paparnya.
Saat disinggung, apakah mungin kondisi pondokan tersebut akibat plafon harga sewa rumah yang sangat rendah atau sekitar 2000 real per jamaah, Said mengelak. ”Jangan semua hal diukur dengan uang. Uang itu tidak menyelesaikan masalah. Yang terpenting bagaimana membangun sistem, sehingga setiap tahun (PPIH) tidak diuber waktu untuk mencari rumah. Kalau panja BPIH terbentuk Desember nanti, awal tahun 2009 kita sudah bisa mencari rumah. Bukan besaran berapa yang harus dibayar jamaah,” ungkapnya.

Menurut anggota Fraksi PDIP ini, ke depan Panja BPIH harus didahulukan agar pencarian pemondokan tidak tergesa-gesa. Selama ini, kata dia, panja dibentuk setelah pemerintah menyampaikan laporan pertanggungjawaban. ”Tahun depan, laporan pertanggung jawaban tak perlu ditunggu untuk membentuk panja. Kita tunda sampai menunggu audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), dan Panja BPIH sudah bias berjalan setelah selesai musim haji tahun ini,” ucapnya.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Staf Tehnis Urusan Haji Nur Samad Kamba menilai masalah perumahan bukan persoalan yang mudah. Dia mengakui, Indonesia yang memiliki jamaah terbanyak merupakan nilai tawar yang tinggi tetapi sekaligus menjadi kelemahan. Sebab, dengan jamaah yang paling banyak, kebutuhan rumah juga semakin tinggi sehingga pemilik rumah di Arab Saudi leluasa memainkan harga rumah.

”Jadi kalau kita ribut dulu soal BPIH, harga pasar naik duluan. Menurut saya, kita diam-diam saja menyewa rumah baik di ring 1 maupun di ring 2 dan kita langsung bayar. Selebihnya, kita tutup kantor seakan-akan tidak butuh rumah lagi agar harga sewa tidak naik. Sebab, harga sewa rumah di Mekkah sangat ditentukan oleh Indonesia dengan kondisi jamaahnya yang paling banyak,” papar Nur Samad. Menurutnya, setelah pemerintah sudah mendapatkan dan menyewa lebih 50 persen perumahaan, baru dibahas masalah BPIH. Jadi nantinya menurut Nur Samad tinggal menyesuaikan dengan harga yang pernah dibayar terlebih dulu.

n osa

Hati-Hati Foto Paksa

MEKAH–Jemaah calon haji Indonesia harus waspada ulah juru foto amatir yang menjual jasa secara paksa dan banyak beroperasi di tempat-tempat bersejarah di kota Mekkah. Seperti peristiwa yang menimpa jemaah asal Indramayu pada Ahad (23/11), saat mengunjungi kaki Jabal Tsur. Ketika tiba langsung diserbu joki Unta, diikuti juru foto amatir langsung mengabadikan momen tersebut.

Ketika selesai berapa kali jepret, juru foto langsung jadi itu menyodorkan hasil jepretannya sebanyak 7 lembar, dengan harga perlembar 10 riyal. Suasana ribut sempat terjadi, dengan menggunakan bahasa Arab si juru foto amatir minta dibayar 70 riyal. Sementara jemaah asal Indramayu, dibantu salah seorang pemandu juga asal Indonesia yang pandai bahasa Arab langsung menolak keinginan juru foto itu. Hingga sempat terjadi adu argumen dengan bahasa Arab bernada tinggi, disaksikan jemaah Indramayu yang masih kebingungan.

Salah seorang jemaah calon haji asal Indramayu Sunanto, mengatakan bahwa ia tidak pernah minta difoto. ”Juru foto amatir tersebut tiba-tiba langsung minta dibayarkan fotonya per lembar 10 riyal, saya menolak,” kata Sunanto.

Ketika juru foto amatir memaksa hasil jepretannya minta dibayar, seorang warga Arab Saudi menengahi keadaan, berupaya menetralisir. Sementara itu jemaah asal Indramayu yang sempat tegang dibuat juru foto amatir,langsung dibawa ketua regu bergegas meninggalkan lokasi dengan menggunakan mobil.

n osa

Jasa Kursi Roda di Masjidil Haram

Banyaknya jumlah jamaah udzur dari berbagai negara, membuat penjual jasa kursi roda di Masjidil Haram panen rejeki. Bames bin Ibrahim, warga Arab Saudi, dengan bahasa `Tarzan` mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya yang menjadi anak buahnya, bisa mengumpulkan uang sehari sekitar 200 hingga 300 real. Dari pantauan //Republika//, tampaknya Bames adalah salah seorang `bos` penjual jasa kursi roda di Masjidil Haram. Ia memiliki beberapa `anak buah`. `Anak buah` Bames ini tampak selalu melapor pada Bames usai ia menunaikan tugas mengantarkan jamaah yang menggunakan jasa kursi roda `paket umrah`

Sejumlah `anak buah` Bames tampak masih anak-anak. Ada yang berusia di kisaran 13 tahun hingga 20-an tahun. Namun mereka memang tampak cepat dan gesit mendorong jamaah yang menggunakan jasanya, walaupun badan jamaah rata-rata lebih besar dari badan para pendorong kursi roda ini.
Dikatakan Bames yang baru berusia 23 tahun namun mengaku sudah memiliki dua istri dan tiga anak ini bahwa untuk tarif dari luar areal ke dalam Masjidil Haram atau sebaliknya, biasanya mereka meminta sekitar 10 hingga 15 real. Itupun terkadang jamaah memberikan tambahan. “Tapi kalau untuk jasa mulai awal hingga proses rangkaian umah selesai, yaitu Tawaf tujuh putaran dan Sa`i Sofa-Marwa tujuh kali, sekarang rata-rata jasanya sekitar 200 real,“ tandas Bames.

Jika sudah mendekati musim puncak haji, tarif itupun menurutnya akan naik seiring dengan banyaknya pencari jasa kursi roda. “Kalau sudah mendekati puncak haji, jika seluruh rangkaian Umrah, biasanya bisa mencapai 500 real,“ tutur Bames. “Nah, nanti kalau untuk Tawaf Wadha atau tawaf perpisahan, itu bisa mencapai 500 hingga 700 real,“ tambahnya. Kursi roda, yang menjadi modal utama mereka, tampaknya merupakan milik mereka sendiri.

Para penjual jasa kursi roda ini harus menguras tenaga ekstra. Pasalnya, dalam beberapa hari belakangan, kondisi Masjidil Haram sudah mulai padat. Sehingga khusus jamaah udzur dengan kursi roda, Tawaf dilakukan di lantai dua. Tentunya jarak tempuh mereka mengelilingi Ka`bah lebih melebar atau lebih jauh dibanding Tawaf di bawah atau persis di depan Ka`bah. Cukup banyak jamaah haji Indonesia yang udzur atau lanjut usia yang melakukan Tawaf di lantai dua dengan menggunakan kursi roda. Namun mereka biasanya dibantu oleh rekan atau saudara sesama jamaah.

n osa

Antisipasi Cuaca Ekstrim

Mungkin para calon jamah sudah banyak mendengar dari saudara, rekan atau dari pihak Departemen Agama maupun Departemen Kesehatan yang mengingatkan untuk mengantisipasi cuaca ekstrim di Arab Saudi. Namun tidak ada salahnya jika saya kembali mengingatkan pada para jamaah terkait persiapan yang perlu dilakukan selama menjalankan ibada. Antara Jedah, Madinah dan Mekah, memiliki rentang suhu udara yang cukup bervariatif.

Di Jedah, suhu udara di malam hingga pagi hari berada di kisaran 15-16 derajat Celcius. Sementara pada siang hari di rentang antara 18 hingga 23 derajat Celcius. Bahkan hujan lebat turun pada satu dua hari terakhir ini. Cuaca demikian tentunya berbeda jauh dengan kondisi rata-rata umumnya di Indonesia. Mungkin selain pakaian seragam yang didapat para jamaah, perlu untuk membawa pakaian hangat seperti jaket tebal, sweater dan lainnya.Juga pakaian dalam tampaknya juga perlu dua atau bahkan tiga lapis. Terutama bagi yang tidak tahan dingin.

Begitu nanti para jamaah bergeser ke Mekah, akan mendapatkan kondisi suhu udara yang berbeda. Saat ini di Mekah jika malam hingga pagi hari berada di rentang suhu 25 hingga 27 derajat Celcius. Sementara pada siang hari sekitar 27 hingga 30 derajat Celcius. Sedangkan suhu udara di Jedah saat ini berada di kisaran 29 hingga 32. Kondisi cuaca ini, baik di Mekah, Medinah dan Jedah diprediksi akan semakin dingin saat memasuki bulan Desember nanti

Selain pakaian hangat, jamaah juga perlu memakai pelembab kulit dan wajah. Ini untuk menghindari kering pada kulit. Yang perlu diantisipasi terutama pada bagian tumit, hidung dan wajah. Sangat rawan, kulit di bagian tumit ini. Tentunya jika sudah pecah-pecah bahkan bisa sampai berdarah, akan mengganggu aktifitas ibadah kita selama di Tanah Haram. Juga jangan segan-segan atau malu untuk selalu menggunakan pelembab bibir atau lipgloss untuk menghindari bibir pecah-pecah.

Jamaah juga diharapkan membawa obat-obatan, terutama yang terkait dengan gangguan seperti flu, batuk pilek serta gangguan pernafasan. Upayakan untuk tidak mengkonsumsi air dingin atau air es selama di Saudi. Walaupun selama di Tanah Suci ada petugas kesehatan, akan lebih baik jamaah untuk membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi di tanah air untuk mengantisipasi. Sementara untuk menjaga stamina tubuh, usahakan untuk banyak minum dan banyak mengkonsumsi buah-buahan selama di Tanah Suci ini. Mungkin perlu juga mengkonsumsi vitamin atau multi vitamin untuk membantu kebugaran dan daya tahan tubuh.

Kacamata gelap atau hitam sangat diperlukan, karena jika sudah siang hari, matahari bersinar sangat terik. Sebaiknya jemaah juga selalu menggunakan masker, terutama saat berada di Mekah dan Armina. Pasalnya, di sekitar Masjidil Haram, masih berlangsung aktivitas pembongkaran-pembongkaran bangunan-bangunan terkait perluasan kompleks Masjidil Haram. Sementara untuk di Armina nanti, untuk mengantisipasi hawa dingin plus debu akibat angin.

Selain itu semua, pemerintah juga menghimbau pada para jamaah untuk tidak memforsir tenaga untuk terus menerus ke Masjidil Haram. Ini diperlukan untuk mempersiapkan diri pada puncak Ibadah haji di Armina. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiapkan lembaran himbauan tersebut yang nantinya akan ditempel di tiap-tiap pondokan jamaah. Tertulis dalam himbauan itu bahwa pendapat dari Ulama Besar yaitu Imam Assuyuti dalam Kitab Al Asbah Wan Nadhoir halaman 788, yang artinya 'Pahala yang dilipatgandakan 100 ribu di Tanah Haram tidak hanya di Masjidil Haram, tetapi berlaku di seluruh Tanah Haram.

Jamaah juga dihimbau untuk selalu mengenakan seragam. Ini akan mempermudah pemantauan pergerakan jamaah oleh petugas kita. Jika bepergian, hendaknya secara berkelompok atau beregu. Upayakan selalu ada laki-laki yang mendampingi ibu-ibu, jika ingin bepergian. Jamaah juga dihimbau untuk selalu bersikap ikhlas dan tawakal serta sabar.

Mudah-mudahan sedikit masukan ini bisa bermanfaat bagi para jamaah. Selamat menunaikan ibadah haji, Insya Allah kami petugas PPIH di Jedah, Madinah dan Mekah siap menerima dan membantu sepenuhnya tamu-tamu Allah SWT. Labbaik Allahumma Labbaik..

n osa

Dam Haji Tamattu, Haji 2008


Sebagai salah seorang yang melaksanakan tata cara berhaji dengan cara Tamattu atau mengerjkan umrah terlebih dahulu sebelum berhaji, saya diwajibkan untuk membayar dam. Sesuai buku bimbingan ibadah yang saya baca, dam untuk haji tamattu adalah menyembelih seekor kambing sebagai kurban atau berpuasa selama sepuluh hari. Dengan ketentuan tiga hari dikerjakan ketika dalam masa haji, tujuh hari lainnya dikerjakan setelah tiba di kampung halaman.

Dan hampir seluruh jamah haji Indonesia akan melaksanakan ibadah hajinya dengan cara haji Tamattu. Karena baik gelombang satu, yang melalui bandara Medinagh dan gelombang dua, yang melalui bandara di Jedah, akan melaksanakan umrah terlebih dulu, baru melaksanakan ibadah haji.

Saya dan sejumlah rekan sesama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memilih untuk membayar dam dengan berkurban. Setelah sekitar enam hari sejak kedatangan kami di Mekah, berusaha untuk mencari kambing untuk disembelih sebagai kurban. Karena terus terang, kurang puas rasanya jika tidak melihat secara langsung proses penyembelihannya.

Alhamdulillah, ada seorang mukimin berasal dari Madura, Ibu Hainan berkenan membantu kami. Ia dan adiknya Salim, memang biasa membantu jamaah mencarikan kambing dan juga membawa atau mengantarkan jamah langsung melihat proses penyembelihan kambing dam-nya.

Harga kambing pun disepakati yang seharga 260 real. Angka tersebut ditambah ongkos penyembelihan kambing 15 real dan saya dan rekan-rekan sepakat memberi ibu Hainan masing-masing lima real. Kami, seluruh kru MCH ditambah lima rekan petugas dari kesehatan dan Depag, berangkat dengan kendaran operasional MCH, yang dipiloti seperti biasa oleh Pak Deden.

Kami menuju pasar kambing di wilayah Jabal Nur, tepatnya wilayah Al Muasim. Terletak sekitar enam hingga tujuh kilometer dari Masjidil Haram. Sesampainya di Pasar Kambing Al Muasim, ternyata banyak pedagang yang menempati areal sekitar 10 hektar tersebut. Jenis dan besaran kambing juga sangat bervariatif. Bahkan ada kambing yang seharga 800 an real (satu real sekitar 2800 rupiah).

Kambing yang kami pesan pun telah disiapkan dan siap diangkut dengan kendaraan sedan yang telah dibuka jok belakangnya. Sebanyak 12 kambing tersebut kemudian dibawa ke tempat pemotongan atau rumah potong yang terletak persis di sebelah pasar kambing itu.

Sesampai di tempat pemotongan, kambingpun diturunkan dari mobil sembari diawasi langsung oleh Dokter Hewan yang bekerja di tempat pemotongan itu, Drh. Hassan Awadallah. Menurutnya, pihak Dinas Kesehatan Hewan, melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap kambing yang akan disembelih. Pertama, secara kasat mata, apakah ada cacat atau tidak, kedua, diperiksa bagian jeroan seperti hati dan limpanya, untuk mengetahui apakah kambing itu berpenyakit atau tidak.

Menurut Hassan, jika sudah mencapai puncak haji nanti, satu tempat pemotongan hewan yang luasnya sekitar lima hektar itu, jumlah dam kurban yang ditangani bisa mencapai sepuluh ribu kambing perhari dan ditangani oleh 60 dokter hewan. Sementara di wilayah Al Muasim tersebut terdapat tiga tempat pemotongan hewan. Selesai menyaksikan proses pemotongan, kamipun kembali ke Kantor Daker Mekah.

Pemerintah, seperti disampaikan pembimbing ibadah Daker Mekah, Nunun Firdaus, menyerahkan sepenuhnya pilihan pada jamaah. Apakah akan membayar dam melalui bank, melalui KBIH ataupun melaksanakannya sendiri dengan melihat secara langsung proses penyembelihan. Menurutnya, biasanya pihak KBIH sudah mengkoordinir untuk pembayaran dam tersebut.

n osa

Gua Hira, Haji 2008


Setelah delapan hari di Mekah, saya dan enam rekan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Daerah Kerjker Mekah berkesempatan berziarah ke Gua Hira di Jabal Nur. Gua tempat Rasulullah SAW menerima wahyu untuk pertamakalinya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril, yaitu surat Al Alaq. Kami baru bisa ke Jabal Nur, karena memang hari-hari sebelumnya liputan kami seputar persiapan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), termasuk kesiapan pondokan jamaah di Mekah.

Sekitar pukul 06.30 Waktu Arab Saudi (WAS), kami bersembilan (karena ibu Novi dan dr. Leli yang kebetulan sedang tidak piket, juga ingin ikut) berangkat. Letak Jabal Nur sekitar 6,5 kilometer sebelah utara kota Mekah. Kami berangkat pagi dengan kendaran Hiace, mobil operasional MCH yang memag selalui dipiloti Pak Deden. Memang banyak yang menganjurkan untuk ke Gua Hira sebaiknya berangkat pagi, bahkan bisa setelah Shalat Subuh. Ini antara lain untuk menghindari panas terik matahari dan situasi yang semakin siang biasanya semakin ramai peziarah. Puncak Jabal Nur masih tampak jelas menjulang ke langit Kota Mekkah jika dipandang dari Wisma Haji Indonesia, di kawasan Aziziyah Janubiyah.

Untuk mencapai tempat berkhlwatnya (mengasingkan diri) Rasululah SAW tersebut, yang pasti diperlukan sikap optimis dan keyakinan diri untuk bisa mencapai puncak. Ini penting, karena tidak sedikit yang gagal mencapai puncak dan melihat Gua Hira, karena sudah merasa pesimis melihat tingginya Jabal Nur. Berdasarkan tulisan-tulisan di puncak Jabal Nur, ketinggian Gua Hira adalah 2500 feet dari kaki atau dataran terendah di sekitar Jabal Nur.

Selain itu, yang jelas kesiapan fisik serta bekal khususnya minuman yang cukup. Saya anjurkan jangan terlalu membawa banyak barang dalam pendakian. Cukup mungkin sekitar dua bungkus biskuit, coklat dan sedikit kurma serta sebotol air minum atau jus buah. Serta kamera saku atau cukup kamera telpon genggam tentunya. Sebaiknya semua dikemas dalam tas punggung agar praktis. Usahakan mengenakan alas kaki yang anti slip atau anti licin. Sebaiknya menggunakan sepatu dan kaos kaki, untuk menghindari lecet. Saya sendiri memakai sepatu sandal lengkap dengan kaos kaki. Jangan lupa penutup kepala dan kaca mata gelap.

Di awal pendakian hingga ke pertengahan jalan menuju puncak bukit berkerikil itu pun hanya bisa dilalui satu orang. Tangga yang terbuat dari susunan batu bersemen hanya dijumpai pada pada pos tengah hingga ke Gua Hira. Tidak hanya melewati batu terjal berliku dengan kecuraman dinding sekitar 60 derajat, juga tak ada tempat untuk pegangan, kecuali bebatuan besar yang terletak di sisi jalan setapak.

Menjelang puncak, kami temui sejumlah fakir miskin meminta-minta shodaqoh di sisi kiri kanan jalan. Juga ada beberapa pedagang menjual minuman serta seperti tasbih, minyak wangi, dan foto-foto Gua Hira. Di puncak Jabal Nur juga terdapat seekor Onta yang disewakan sekedar untuk berfoto di atas punggungnya. Mereka menawarkan dagangan dan sewan ontanya dengan bahasa Indonesia yang sedikit terbata. Untuk naik onta sekedar berfoto, kami akhirnya dikenakan tarif dua real perorang. Walau sempat beberapakali istirahat sejenak melepas lelah, akhirnya kami sampai di puncak Jabal Nur. Luar biasa melihat pemandangan kota Mekah dari puncak Jabal Nur. Bahkan Masjidil Haram pun bisa terlihat dari puncak Jabal Nur.

Untuk mencapai Gua Hira di Puncak Jabal Nur itu, kita harus melewati terlebih celah-celah atau lorong dengan dinding bebatuan sepanjang lima meter. Celah itu hanya bisa dilalui satu orang. Di ujung lorong, baru bisa kita lihat Gua Hira, tempat Rasulullah SAW mengasingkan diri atau berkhalwat atau bertahannuf. Yaitu cenderung pada kebenaran, berserah diri kepada Allah SWT. Subhanallah! Para peziarah pun tampak antri untuk bisa melakukan shalat di dalam Gua Hira.

Saya sempat menitikkan air mata, membayangkan ribuan tahun yang lalu, Rasulullah SAW yang sebelum mendapatkan Wahyu pertama tersebut, sudah sangat sering dalam kurun waktu tahunan, berkhalwat atau mengasingkan diri di Gua Hira. Membayangkan perjuangan Rasulullah SAW saat melakukan pendakian dan saat berkhalwat di gua batu di atas ketinggian 2500 feet atau sekitar 750 meter tersebut.

n osa

Minyak Wangi, Zamzam dan Tisu, Haji 2008


Berada di Tanah Haram, khususnya di Masjidil Haram membuat orang tak mau kehilangan kesempatan sedikitpun untuk beramal, berbuat kebajikan, semata mengharap pahala dari Sang Pencipta. Kondisi ini saya rasakan saat berada di Masjidil Haram saat akan menunaikan Shalat Jumat.

Kebetulan pada Jumat (7/11) lalu, saya dan empat rekan Media Center Haji (MCH) Mekah lainnya, liputan di Sektor enam di Syauqiah dan Sektor 12 di wilayah Tan'im yang berjarak sekitar tujuh hingga delapan kilometer dari Masjidil Haram. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan, karena lokasi tempat liputan kami sudah dekat dengan Masjid Tan'im, salah satu tempat Miqod atau batas Tanah Haram. Usai liputan, kamipun ke Masjid Tan'im dan berniat Ihram untuk melakukan Ibadah Umrah.

Setelah mandi besar, shalat sunnah dan memantapkan niat Umrah di Masjid Tan'im, kamipun berangkat ke Masjidil Haram. Alhamdulillah, tiba di Masjidil Haram, waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Sementara Waktu Dhuhur adalah sekitar pukul 12.00 WAS. Kami berlima setelah masuk Masjidil Haram, langkung melakukan Tawaf. Mungkin karena hari Jumat, saat itu cukup padat jamah yang melakukan Tawaf.

Subhanallah, saat Tawaf inilah saya benar-benar melihat bagaimana jamaah berlomba-lomba berbuat kebajikan pada sesamanya, semata mengharap Ridho dari Allah SWT. Misalnya, tidak sedikit orang yang di kedua tangannya memegang masing-masing sekotak tisu saat bertawaf. Jadi siapapun dipersilahkannya untuk mengambil tisu yang dibawanya itu untuk sekedar membersihkan wajah dari keringat. Mereka tak peduli siapa, berkulit apa dan berasal dari negara mana, yang mengambil tisu darinya itu. Padahal, kebetulan salah satu yang saya lihat, orang yang membawa tisu ini kebetulan orang berkulit hitam dan dia sendiri bermandikan peluh.

Selain itu, beberapa jamaah lainnya, berdiri di pinggir jalur terluar orang bertawaf sembari memegang dua gelas air zamzam di tangan kanan dan kirinya. Sama, merekapun sembari sedikit berteriak, menawarkan air zamzam itu pada jamah yang tengah Bertawaf. Spontan tawaran air zamzam ini cepat 'laris' karena banyak peminatnya. Setelah dua gelas zamzam itu 'laris', orang itupun kembali mengambil zamzam di tempat deretan wadah besar air zamzam yang tak jauh dari tempat ia berdiri semula.

Tak jauh dari orang yang menawarkan air zamzam ini, berdiri orang Arab yang mengenakan gamis putih dan bersorban. Ia memegang mungkin puluhan Tasbih di tangannya dan dibagi-bagikan pada jamaah yang tengah bertawaf. Ia juga memegang satu botol kecil minyak wangi dan mengoleskannya pada punggung tangan jamaah yang sengaja menghampirinya. Subhanallah.

Melihat empat kejadian tersebut, terus terang, pikiran saya langsung 'terbang' ke negeri saya tercinta Indonesia. Saya langsung membayangkan betapa indahnya kita hidup damai berdampingan saling bantu dan saling menghargai. Tak ada tawuran, ribut-ribut, aksi demo yang berakhir dengan bentrok dan segala macam kekerasan yang saat ini marak di Indonesia. Apalagi saat ini kondisi negara kita sudah mulai memanas menjelang Pemilu 2009.

Alangkah indahnya bila semua pihak bisa sama-sama menahan diri, menahan emosi demi terciptanya hidup rukun dan damai dan penuh dengan rasa kebersamaan. Mungkin empat kejadian yang saya sampaikan tadi bisa menjadi contoh bagi kehidupan kita di Tanah Air. Bagaimana kita harus bersikap dalam menjalankan hubungan dengan sesama dan tentunya hubungan dengan Sang Pencipta.

n osa

Hujan Es di Mekah, Haji 2008


Sejak hujan lebat pada tahun 2004 lalu, yang sempat membuat banjir di sejumlah titik di Mekah, baru semalam turun hujan lebat lagi di Mekah. Subhanallah. Bukan itu saja, bahkan hujan semalam juga berupa butiran-butiran es kecil sebesar satu buku jari kelingking orang dewasa. Hujan berlangsung sejak sekitar pukul 11 malam pada Rabu (5/11) hingga Kamis pagi (6/11). Dua hari sebelumnya, di Madinah juga diguyur hujan lebat, setelah sekian tahun tidak turun hujan besar.

Dikatakan sejumlah Temus (Tenaga Musiman) yang bekerja sebagai petugas haji di Wisma Haji, Mekah, hujan kali ini merupakan hujan terbesar sejak hujan besar pada 2004 lalu. Menurut mereka, hampir setiap pergantian musim memang terkadang ada hujan, namun biasanya hanya sedikit dan sebentar.

Karena lebatnya hujan, saya dan enam rekan saya yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Mekah, sempat tertahan sebentar ketika hendak berangkat ke Masjidil Haram untuk shalat subuh. Waktu subuh di Mekah sekitar pukul 05.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Karena hujan, kami baru berangkat dari Wisma Haji yang juga Kantor Daker Mekah sekitar pukul 04.40 WAS. Kami, tim MCH PPIH di Mekah, bertujuh. Yaitu saya, Mandala Yudi dan Rustian Al Anshori (RRI), Yuni Eko Sulistiono dan Brams Harwin (RCTI), Pandu Dewantara (Fotografer Antara)dan Azhar Aziz (Sindo).

Udara pagi usai hujan itu terasa lebih dingin jika dibanding hari-hari sebelumnya. Jika hari-hari sebelumnya suhu udara pada pagi hari sekitar 26 derajat Celcius, pagi itu saya perkirakan sekitar 22 hingga 24 derajat Celcius. Usai hujan agak reda, kamipun berangkat dengan menggunakan kendaraan oeprasional MCH ke Masjidil Haram yang dipiloti oleh Pak Deden, seorang mukimin yang menjadi Temus, asli Tasikmalaya. Perjalanan ke Masjidil Haram yang berjarak sekitar 2,5 kilometer ditempuh sekitar 10 menit.

Sesampai di Masjidil Haram, puluhan petugas kebersihan Masjidil Haram tampak sibuk mengeringkan pelataran dan lantai Masjidil Haram yang basah karena hujan. Baik dengan menggunakan alat dengan tangan maupun pengering dengan menggunakan kendaran mini. Ternyata, Masjidil Haram pun menurut sejumlah petugas kebersihan asal Indonesia, sempat tergenang semata kaki. Hanya saja karena mereka siap //standy by// 24 jam, tak lama lantai yang semula tergenang itupun kering.

Kamipun langsung masuk Masjidil Haram dan mengambil shaf di sekitar Ka'bah. Karena tampaknya sudah tidak keburu lagi untuk Tawaf Sunnah, karena sudah menjelang adzan subuh. Usai shalat Subuh, kami baru melakukan Tawaf sunnah. Saat Tawaf, rintik-rintik hujan pun mulai turun.

Mungkin karena belum terlalu padat jamaah, para jamaah bisa bebas mengambil gambar atau mungkin sedikit berpose dalam Masjidil Haram dengan latar belakang Ka'bah. Asalkan dengan kamera kecil atau kamera HP. Namun jika menggunakan kamera profesional yang besar, akan ditegur oleh askar. Saya belum bisa memastikan apakah sikap askar yang agak longgar itu juga berlaku nanti pada musim puncak haji atau saat sudah banyak jamaah dari seluruh dunia datang. Saya dan rekan-rekan juga sempat berfoto di depan Ka'bah.

Sekitar pukul 06.00 WIB kamipun berkumpul di satu titik, dekat hotel Al Massa, dekat Masjidil Haram untuk kemudian saya mengontak pengemudi kendaran kami untuk menjemput. Pasalnya di sekitar lokasi itu tidak diperbolehkan parkir mobil lama. Di sekitar tempat kami menunggu ini, banyak wanita-wanita kulit hitam yang biasanya mengenakan pakaian serba hitam, menawarkan biji-bijian untuk pakan burung merpati. Di sekitar Masjidil Haram memang banyak burung merpati yang jinak dan banyak jamaah yang sengaja membeli biji-ijian itu untuk memberi makan burung-burung tersebut.

Saat menunggu, hujan yang tadinya gerimis, semakin lebat. Mungkin perlu juga untuk jamaah nanti saat ke Masjidil Haram, untuk menentukan atau menyepakati bersama titik pertemuan di sekitar Masjid. Ini penting mengantisipasi jamaah yang bisa terpisah dari rombongan atau regunya, karena padatnya manusia dari seluruh dunia pada puncak musim haji nanti.

n osa

Jalan kaki di Mekah, Haji 2008


Sebagai salah satu negara terkaya kandungan minyaknya di dunia, mungkin di Arab Saudi lah harga BBM termurah di dunia. Anda bisa bayangkan jika dibanding harga Premium di Indonesia. Saat ini harga BBM dengan kandungan oktan setara dengan Pertamax Plus, dijual hanya dengan harga sekitar 45 sen real. Jika satu real setara dengan sekitar 3000 rupiah, berarti harga satu liter BBM kualitas tinggi tadi tidak sampai 1500 rupiah perliter.

Sementara saat ini di Indonesia harga seliter Premium dengan kualitas oktan yang cukup, mencapai 6000 rupiah (mudah-mudahan penurunan harga BBM di Indonesia saat ini juga tidak sebatas wacana saja).

Dengan kondisi harga BBM yang relatif sangat murah dan ditambah mungkin dengan tingkat kesejahteraan dan kemapanan rakyatnya, pantas saja jika kita lihat di jalan-jalan di Arab Saudi, yang berseliweran adalah mobil-mobil mewah dengan kapasitas mesin besar. Rata-rata sekitar 3000 cc ke atas. Selain itu, rata-rata kendaraan yang berlalu lalang adalah produksi negara-negara Eropa. Seperti Mercedes Benz buatan Jerman, Ford dan GMC buatan AS serta Bentley yang kalau tidak salah buatan Jerman juga. Bahkan Bentley seri sedan limousine juga tak jarang tampak di jalanan Arab Saudi.

Banyak juga produksi Jepang seperti Toyota. Mulai dari jenis Land Cruiser hingga jenis Double Cabin. Banyak juga terlihat Toyota Kijang Innova, yang di sini namanya hanya Innova. Mitsubishi Pajero, Nissan Patrol serta sedan seri mewah juga banyak dimiliki masyarakat di Saudi ini.

Mungkin karena harga mobil yang 'murah', apalagi jika dibandingkan harga mobil di Indonesia, perlakuan para pemilik kendaraan-kendaraan mewah tersebut juga jauh berbeda dengan perlakuan pemilik kendaraan mewah di negeri kita. Kondisi mobil-mobil yang rata-rata keluaran tahun 2000 ke atas itu jarang ada yang kondisinya mulus dan bersih. Rata-rata sudah mengalami penyok-penyok bekas tabrakan atau bekas gesekan. Mulai dari yang tingkat kerusakan bodi yang ringan hingga berat. Selain itu, jarang terlihat kendaraan-kendaran itu yang dalam kondisi bersih. Hampir semua dalam kondisi berdebu dan bahkan sangat kotor. Tampaknya mereka berprinsip yang penting mobilnya bisa jalan dan 'ngebut'. Kalau sudah tak layak pakai dalam ukuran mereka, tinggal buang saja atau ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Sementara kendaraan umum juga ada berbagai jenis di Arab Saudi ini. Mulai dari jenis bis tua, mini van hingga mobil mewah. Tarifnya pun kebanyakan dengan sistem tawar menawar. Sebagai patokan, untuk tarif taksi kendaraan mewah dari Masjidil Haram ke Wisma Haji atau Kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah dengan jarak sekitar empat kilometer, kalau sistem borongan sekitar 5 real atau 15 ribu. Itu harga sudah ditawar. Biasanya mereka rata-rata menawarkan tarif 10 real. Namun kalau sistem perorang, biasanya sekitar 2,5 real perorang. Namun jangan kaget, tarif harga ini bisa terus naik sampai puncak musim haji tiba.

Selama di Mekah, anda nanti tidak akan banyak melihat sepeda motor berseliweran. Mungkin bagi mereka, untuk apa pakai sepeda motor, jika beli mobil murah dan harga BBM sangat terjangkau. Kalaupun ada, justru dari jenis-jenis sepeda motor cc kecil dan sudah tua-tua. Bagi para jamah haji, mungkin perlu sedikit berhati-hati jika ingin menyeberang jalan di Mekah. Pasalnya mereka menggunakan jalur kanan atau stir kiri.

Kondisi sampai saat ini di sekitar Masjidil Haram masih belum terlalu padat. Sehingga kendaraan masih bisa mendekat ke Masjidil Haram. Namun jika pada musim puncak haji, banyak yang mengatakan kondisinya akan sangat berbeda. Padat, macet dan semrawut. Bus-bus pengangkut jamaah haji pun mungkin hanya bisa berhenti agak jauh dari Masjidil Haram. Sehingga para jamaah perlu menyiapkan fisik untuk nantinya akan banyak berjalan kaki selama di Mekah. Kondisi macet dan padat ini juga akan dialami saat proses puncak haji di Armina. Jamaah pun harus benar-benar menyiapkan fisik agar benar-benar fit. Karena bukan tidak mungkin, dengan berjalan kaki, justru lebih cepat tiba di tujuan.

n osa

Cuaca di Mekah, Haji 2008

Mungkin para calon jamah sudah banyak mendengar dari saudara, rekan atau dari pihak Departemen Agama maupun Departemen Kesehatan yang mengingatkan untuk mengantisipasi cuaca ekstrim di Arab Saudi. Namun tidak ada salahnya jika saya kembali mengingatkan pada para jamaah terkait persiapan yang perlu dilakukan selama menjalankan ibada. Antara Jedah, Madinah dan Mekah, memiliki rentang suhu udara yang cukup bervariatif.

Di Jedah, suhu udara di malam hingga pagi hari berada di kisaran 15-16 derajat Celcius. Sementara pada siang hari di rentang antara 18 hingga 23 derajat Celcius. Bahkan hujan lebat turun pada satu dua hari terakhir ini. Cuaca demikian tentunya berbeda jauh dengan kondisi rata-rata umumnya di Indonesia. Mungkin selain pakaian seragam yang didapat para jamaah, perlu untuk membawa pakaian hangat seperti jaket tebal, sweater dan lainnya.Juga pakaian dalam tampaknya juga perlu dua atau bahkan tiga lapis. Terutama bagi yang tidak tahan dingin.

Begitu nanti para jamaah bergeser ke Mekah, akan mendapatkan kondisi suhu udara yang berbeda. Saat ini di Mekah jika malam hingga pagi hari berada di rentang suhu 25 hingga 27 derajat Celcius. Sementara pada siang hari sekitar 27 hingga 30 derajat Celcius. Sedangkan suhu udara di Jedah saat ini berada di kisaran 29 hingga 32. Kondisi cuaca ini, baik di Mekah, Medinah dan Jedah diprediksi akan semakin dingin saat memasuki bulan Desember nanti

Selain pakaian hangat, jamaah juga perlu memakai pelembab kulit dan wajah. Ini untuk menghindari kering pada kulit. Yang perlu diantisipasi terutama pada bagian tumit, hidung dan wajah. Sangat rawan, kulit di bagian tumit ini. Tentunya jika sudah pecah-pecah bahkan bisa sampai berdarah, akan mengganggu aktifitas ibadah kita selama di Tanah Haram. Juga jangan segan-segan atau malu untuk selalu menggunakan pelembab bibir atau lipgloss untuk menghindari bibir pecah-pecah.

Jamaah juga diharapkan membawa obat-obatan, terutama yang terkait dengan gangguan seperti flu, batuk pilek serta gangguan pernafasan. Upayakan untuk tidak mengkonsumsi air dingin atau air es selama di Saudi. Walaupun selama di Tanah Suci ada petugas kesehatan, akan lebih baik jamaah untuk membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi di tanah air untuk mengantisipasi. Sementara untuk menjaga stamina tubuh, usahakan untuk banyak minum dan banyak mengkonsumsi buah-buahan selama di Tanah Suci ini. Mungkin perlu juga mengkonsumsi vitamin atau multi vitamin untuk membantu kebugaran dan daya tahan tubuh.

Kacamata gelap atau hitam sangat diperlukan, karena jika sudah siang hari, matahari bersinar sangat terik. Sebaiknya jemaah juga selalu menggunakan masker, terutama saat berada di Mekah dan Armina. Pasalnya, di sekitar Masjidil Haram, masih berlangsung aktivitas pembongkaran-pembongkaran bangunan-bangunan terkait perluasan kompleks Masjidil Haram. Sementara untuk di Armina nanti, untuk mengantisipasi hawa dingin plus debu akibat angin.

Selain itu semua, pemerintah juga menghimbau pada para jamaah untuk tidak memforsir tenaga untuk terus menerus ke Masjidil Haram. Ini diperlukan untuk mempersiapkan diri pada puncak Ibadah haji di Armina. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiapkan lembaran himbauan tersebut yang nantinya akan ditempel di tiap-tiap pondokan jamaah. Tertulis dalam himbauan itu bahwa pendapat dari Ulama Besar yaitu Imam Assuyuti dalam Kitab Al Asbah Wan Nadhoir halaman 788, yang artinya 'Pahala yang dilipatgandakan 100 ribu di Tanah Haram tidak hanya di Masjidil Haram, tetapi berlaku di seluruh Tanah Haram.

Jamaah juga dihimbau untuk selalu mengenakan seragam. Ini akan mempermudah pemantauan pergerakan jamaah oleh petugas kita. Jika bepergian, hendaknya secara berkelompok atau beregu. Upayakan selalu ada laki-laki yang mendampingi ibu-ibu, jika ingin bepergian. Jamaah juga dihimbau untuk selalu bersikap ikhlas dan tawakal serta sabar.

Mudah-mudahan sedikit masukan ini bisa bermanfaat bagi para jamaah. Selamat menunaikan ibadah haji, Insya Allah kami petugas PPIH di Jedah, Madinah dan Mekah siap menerima dan membantu sepenuhnya tamu-tamu Allah SWT. Labbaik Allahumma Labbaik..

n osa

Banyak Berbekal Sabar


Sekitar sebulan sebelum saya berangkat ke Tanah Suci, orangtua saya, saudara serta banyak rekan berpesan agar saya benar-benar mempersiapkan diri sebelum

bertolak ke Tanah Suci. Baik persiapan fisik, psikis dan juga memantapkan niat Insya Allah memenuhi panggilan Sang Pencipta, mereka juga berpesan agar banyak berbekal sabar. Ujian

kesabaran saya dapatkan pertamakali sejak memasuki Asrama Haji Pondok Gede. Sekitar hampir 500 orang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk Daerah

Kerja (Daker) Mekah, masuk ke Asrama Haji pada tanggal 1 November lalu. Untuk kemudian keesokan harinya diberangkatkan dalam dua gelombang penerbangan ke

Tanah Suci melalui Bandara King Abdul Aziz, Jedah. Jumlah petugas tersebut dalam hampir waktu yang bersamaan tiba di Asrama Haji Pondok Gede dan diarahkan

untuk mencari tempat atau kamar di gedung D1. ''Silahkan saja, bapak-bapak, ibu-ibu, mana kamar yang kosong masuk saja,'' petunjuk sejumlah petugas dari

Depag pada kami.

Spontan kamipun setengah berebut mencari-cari kamar yang masih kosong. Setiap kamar Gedung D1 yang tiga lantai ini rata-rata berisi delapan tempat tidur atau

ranjang tingkat. Jadi setiap kamar berisi 16 tempat tidur. Sayapun dengan enam rekan sesama MCH (Media Center Haji) dan seorang rekan dari Layanan Umum,

mendapatkan tempat di salah satu kamar di lantai dua. Sesaat setelah kami menyimpan tas dan koper besar di kamar, kamipun baru menyadari bahwa ternyata AC

dan kipas angin di kamar kami tidak berfungsi. Terpaksa kamipun berusaha tetap bisa beristirahat dengan kondisi udara lumayan panas serta 'sedikit' gangguan

nyamuk, karena jendela dan pintu harus kami buka lebar-lebar untuk mengurangi udara pengap. Insya Allah kalau kita tetap sabar, semua tetap terasa nyaman-

nyaman saja.

Ujian sabar selanjutnya kami rasakan saat menunggu sekitar lima jam di bandara Soekarno Hatta sebelum akhirnya kami bertolak ke Jedah dengan pesawat Garuda.

Untuk mengantisipasi lamanya proses pengurusan keimigrasian, kami yang masuk dalam gelombang kedua diberangkatkan sekitar pukul 07.30 WIB dari Asrama Haji ke

Bandara. Sementara jadwal terbang adalah pukul 12.55 WIB. Sekali lagi, walaupun kita harus duduk 'lesehan' di Bandara, namun jika kita jalankan dengan penuh

kesabaran dan ikhlas, Insya Allah inipun terasa nikmat.

Setelah terbang selama sekitar sembilan jam, kamipun tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jedah. Di bandara ini, kembali kesabaran saya mendapat ujian. Pelayanan

keimigrasian menurut sejumlah rekan sesama petugas yang sudah berpengalaman, mengatakan bahwa untuk kali ini, pelayanan keimigrasian di Arab Saudi, khususnya

di Bandara King Abdul Aziz, cenderung lebih bagus dan lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walaupun memang terasa cepat, namun kami harus melalui

tiga pos pemeriksaan di Bandara tersebut sebelum akhirnya bisa beristirahat sejenak di ruang tunggu. Pos pertama, jelas pemeriksaan kelengkapan paspor dan

lainnya. Pos kedua dan ketiga, tampaknya juga masih terkait dengan keimigrasian. Hanya sekedar membubuhkan stempel dan paraf petugas dan pengecekan

kelengkapan lainnya.

Pada pos pertama, lama pemeriksaan tiap-tiap orang tidak sama. Arsip yang diperiksapun juga tergantung petugas imigrasi yang memeriksa di pos pertama ini.

Alhamdulillah saya termasuk yang cepat dan lancar. Ada rekan petugas yang entah mengapa, si petugas imigrasi mencermati wajah rekan kami tersebut sembari

melihat foto nya di paspor. Bahkan ia harus cek sidikjari, serta difoto lagi di pos tersebut. Tentunya hal-hal seperti ini juga membuat sejumlah rekan dari

rombongan kami yang antri di belakang rekan kami tersebut, jadi deg-degan dan bertanya-tanya. 'Apakah saya akan diperlakukan seperti itu atau bisa cepat ya?'

Namun Alhamdulillah, mungkin karena kami semua tetap berupaya selalu sabar dan ikhlas, semua proses keimigrasian berhasil kami lewati tanpa hambatan berarti.

Semua proses itu termasuk berihram dan niat Ihram Umrah di Bandara selesai sekitar pukul 01.00 dinihari (3/11) waktu setempat.

Kamipun dengan lima bus besar diangkut langsung menuju Masjidil Haram untuk menjalankan Umrah. Alhamdulillah berkat bekal sabar dan ikhlas pula, kami bisa

menjalankan Umrah dengan lancar. Termasuk hampir seluruh dari kami diberi kesempatan oleh-Nya untuk mencium Hajar Aswad. Mungkin memang karena situasi di

Masjidil Haram juga belum terlalu padat dengan jamaah. Namun yang jelas tentunya semua atas ijin dan kuasa dari-Nya. Subhanallah.

n osa

Mustajab


Sebagai mahluk ciptaan-Nya, harapan kita sebagai manusia tentunya ingin seluruh doa-doa dan permohonan kita dikabulkan oleh Sang Pencipta. Demikian pula seluruh jamah haji yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Kesempatan beribadah di Masjidil Haram tentu tak akan disia-siakan. Seluruh umat Muslim memanfaatkan kesempatan beribadah dengan berdoa di tempat-tempat yang diriwayatkan merupakan tempat yang mustajab (Dijanjikan Dikabulkan doanya oleh Allah SWT). Antara lain di Multazam dan Hijir Ismail.

Pada Selasa (30/12) malam, saya dan rekan Azhar Aziz dari Harian Seputar Indonesia berniat untuk menunaikan shlat Maghrib dan Shalat Isya' di Masjidil Haram. Untuk pertamakalinya selama dua bulan di Mekah, saya bisa mendapatkan tempat shalat yang sangat dekat dengan Ka'bah. Hanya berjarak sekitar lima meter dari Ka'bah. Mungkin karena memang situasi di Masjidil Haram sudah tidak terlalu padat oleh jamaah, seiring banyaknya jamaah yang sudah meninggalkan kota Mekah.

Usai shalat Maghrib, saya dan Azhar langsung menunaikan Thawaf Sunnah. Kami sengaja memilih thawaf dengan posisi agak mendekat ke sisi Ka'bah. Karena kami berniat usai Thawaf akan langsung menuju Multazam dan kalau memungkinkan ke Hijir Ismail.

Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang mustajab (maqbul) untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Tertulis dalam Esniklopedi Haji dan Umrah bahwa dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Ibnu Abbas bahwa dia (ibnu Abbas) berada di antara pojok Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Rasulullah SAW mengatakan bahwasanya tempat yang terletak antara pintu Ka'bah dengan Hajar Aswad itulah yang dinamakan Multazam. Dan Allah SWT akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa di Multazam itu (HR al Baihaqi).

Ibnu Abbas ra juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Jibril as mengamini doaku pada pintu Ka'bah sebanyak dua kali. Dalam riwayat lain dikemukakan, Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya, ''manakah yang paling baik?'' Aisyah menjawab,'' Allah dan Rasulnya lebih mengetahui, ya Rasulullah sepertinya engkau menghendaki antara rukun (sisi Ka'bah tempat terletaknya Hajar Aswad) dan maqam?''

Rasulullah bersabda, ''Engkau benar, sesungguhnya tempat yang paling baik, paling suci, paling bersih dan paling dekat bagi Allah SWT adalah apa yang berada antara rukun dan maqam, di mana di antara rukun dan maqam itu terdapat sebuah taman di antara taman-taman surga''. Banyak hadist-hadist senada lainnya yang menerangkan tentang keutamaan Multazam dan makbulnya berdoa di Multazam yang diriwayatkan dari thuruq atau jalur yang berbeda.

Alhamdulillah kami berhasil memanjatkan doa di Multazam, walau tak berhasil menempelkan tubuh kami di dinding Ka'bah. Karena banyaknya jamaah yang berebut, saya dan Azhar hanya bisa sekedar menyentuh dinding dan pintu Ka'bah dengan tangan kanan. Sekitar 10 menit kami berdoa di Multazam. Karena situasi yang berdesak-desakan, kami pun bergeser menuju Hijir Ismail untuk melakukan shalat sunnah dan juga kembali memanjatkan doa.

Hijir Ismail adalah sebidang lahan berbentuk setengah lingkaran yang terletak di sebelah utara Ka'bah. Bagian dalam Hijir Ismail berbatasan langsung dengan dinding Ka'bah antara Rukun Syami (sudut sebelah arah Syam) dan Rukun Iraqi (sudut sebelah arah Iraq). Sedangkan bagian luarnya yang berbentuk melingkar setengah lingkaran dipagari dengan tembok rendah yang dinamakan al Hatim sekitar enam meter dari dinding Ka'bah, di bawah al mizab (talang/pancuran air).

Hijir Ismail sering dijadikan sebagai tempat shalat dan tempat memunajatkan doa kpada Allah SWT. Tempat ini diyakini sebagai salah satu dari beberapa tempat yang mustajab (tempat doa dikabulkan) di samping tempat lainnya seperti Multazam. Para ulama memasukkan Hijir Ismail sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Doa yang biasa diucapkan di Hijir Ismail adalah: ''Ya Tuhanku, aku datang kepada-Mu dari belahan bumi yang jauh dengan harapan memperoleh kebaikan-Mu, suatu kebaikan yang cukup sehingga aku tidak mengharapkan kebaikan dari selain-Mu, wahai pemberi kebaikan.''

Walau sedikit berdesakan, kami secara bergantian bisa menunaikan shalat sunnah di Hijir Ismail ini. Pasalnya, kami harus saling menjaga dari belakang, saat salah satu dari kami melakukan shalat. Jika tidak, desakan atau dorongan dari belakang tentunya akan sangat menganggu shalat

n osa

Madinah Al Munawarah, Haji 2008

Tidak seperti jamaah haji Indonesia, selama berada di Arab Saudi, saya 'hanya' berkesempatan berada di kota Madinah empat hari tiga malam. Sehingga saya pun tidak bisa menunaikan shalat Arbain di Masjid Nabawi atau shalat empat puluh waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Namujn Alhamdulillah, selama empat hari di Madinah, saya manfaatkan waktu seefisien mungkin untuk mengunjungi atau berziarah ke berbagai tempat bersejarah di Madinah.

Seperti percetakan Alquran Raja Fahd, Masjid Quba, Masjid Qiblatain serta Jabal Uhud. Selain tentunya saya berupaya untuk menunaikan shalat wajib di Masjid Madinah. Jarak Masjid Nabawi dengan tempat saya menginap, yaitu di Daker Madinah, sekitar 500 meter. Terkadang hawa dingin di pagi hari yang mencapai sekitar 15 derajat Celcius, cukup menjadi godaan bagi saya untuk melangkahkan kaki ke Masjid Nabawi.

Madinah Al Munawarah adalah sebuah kota di Arab Saudi tempat tinggal Rasulullah SAW. Kota ini semula bernama Yathrib, kemudian diubah oleh Rasulullah SAW menjadi Madinah, yang berarti kota. Sejak Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah 15 Juli 622 M, Madinah menjadi kota penting. Madinah menjadi ibukota pemerintah Islam pertama di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan berlanjut masa Khulafaul Rasyidin.

Seperti tertulis dalam Ensiklopedi Haji dan Umrah, Madinah menjadi ibukota dari sebuah pemerintahan besar dalam beberapa dekade pemerintahan Islam. Madinah merupakan salah satu dari dua kota suci bagi kaum Muslimin, selain Mekah, yang juga dikunjungi jutaan jamaah haji setiap tahun. Pengurusan dan pemelihartaan Madinah dan Mekah berada di bawah kekuasaan kerajaan Arab Saudi. Karenanya Raja Arab Saudi dikenal juga dengan sebutan Khadim al Haramain atau pelayan dua tanah suci.

Sebagaimana yang berlaku di tanah suci Mekah, terdapat juga beberapa ketentuan yang berkaitan dengan kesucian kota Madinah. Ketentuan itu antara lain dalam kawasan Tanah Suci Madinah dilarang berburu binatang liarnya dan memotong kayu-kayuannya. Ketentuan ini berlaku bagi orang yang sedang ihram dan yang bukan ihram. Juga dianjurkan untuk tidak memindahkan tanah dan batu-batuan yang terdapat di kawasan Tanah Suci Madinah ke kawasan lain di luar tanah suci.

Madinah terletak di tengah-tengah pegunungan Hijaz yang membentang antara dataran tinggi Nejd di Timur dan dataran rendah Tihama di sebelah Barat kurang lebih 275 kilometer dari Laut Merah. Kebanyakan rumah penduduk Madinah berada di dataran rendah (lembah) dan mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan air. Masyarakat dapat memperoleh air hanya dengan mengali sumur sedalam empat hingga sepuluh meter.

Dengan kedatangan Rasulullah SAW, Madinah menjadi pusat kegiatan dalam memimpin umat. Dari kota ini Rasulullah menyusun strategi untuk menghadapi kaum kafir Quraisy, suku Arab maupun Yahudi. Pada awal kedatangan Rasulullah, beliau menjalin hubungan dengan Yahudi Madinah yang kemudian diikuti dengan penandatanganan perjanjian Madinah atau Piagam Madinah, suatu piagam yang diprakarsai Rasulullah SAW beserta beberapa suku Arab dan Yahudi di Madinah.

Jadi piagam ini tidak hanya menyangkut umat Islam tetapi juga mengikat seluruh elemen masyarakat yang berdomisili di Madinah. Piagam ini berisi usaha rekonsiliasi dan kehidupan damai antara umat Islam dan Yahudi Madinah. Meskipun belakangan Yahudi mengingkari perjanjian tersebut dengan membantu musuh yang memerangi umat Islam ketika perang Khandak.

Masuknya Islam di Madinah dimulai nenerapa tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah. Hal ini ditandai dengan masuk Islamnya dua orang (menurut Ibnu Sa'ad) atau enam orang Madinah (menurut Ibnu Ishaq). Pada musim haji tahun 621 M, 12 orang Madinah menemui Rasulullah di Aqabah, sebuah lembah dekat Mekah, seraya mengakui kenabian Muhammad SAW, mengakui ajarannya dan dengan sepenuh hati berjanji untuk mengikuti ajarannya. Perjanjian yang melibatkan 12 orang Madinah ini kemudian dikenal dalam sejarah Islam dengan perjanjian Aqabah pertama atau //The First Pledge of Aqaba//.

Ketika 12 orang kaum Muslimin Madinah hendak pulang, Rasulullah SAW mengutus seorang Muslim Mekah untuk mengajarkan Alquran kepada mereka. Pada musim haji tahun berikutnya 633 M, 75 orang Madinah kembali 'memproklamirkan' ke-Islaman mereka pada Rasulullah SAW. Kemudian di Aqbah Rasulullah SAW menerima dan kemudian menunjuk 12 orang dari mereka untuk menjadi pemimpin.

Penunjukkan bukan berdasarkan kecakapan dalam bidang militer tetapi berdasarkan wibawa dan pengaruh mereka. Hal ini terbukti bahwa hanya Abdullah bin Rawahahlah di antara ke-12 orang itu yang mempunyai kecakapan militer. Kejadian ini dikenal dalam sejarah Islam dengan Perjanjian Aqabah kedua (//The second Pledge of Aqaba//).

n osa

Madinah-Mekah, Haji 2008


Kamis pekan lalu, saya bersama rekan dari RRI, Rustian Al Anshori dan Mandala Yudi ingin pulang dari Madinah menuju Mekah dengan menggunakan angkutan umum. Kebetulan empat rekan kami masih ingin tinggal di Madinah sehari lagi. Saya pikir apa salahnya kami bertiga naik angkutan umum menunju Mekah.

Pilihan pun jatuh pada bus antar kota Saptco. Perusahaan milik pemerintah Arab Saudi ini selain melayani angkutan dalam kota, juga melayani angkutan bus antar kota dan bus charter. Mungkin kalau di Indonesia seperti bus Damri. Kebetulan kantor pusat sekaligus terminal dan pelayanan tiket bus Saptco ini juga hanya berjarak sekitar 40 meter dari Hotel tempat Daker Madinah sekaligus tempat kami menginap selama di Madinah.

Persis di depan kantor tempat pelayanan tiket, berjajar taksi-taksi dengan jenis kendaraan sedan lumayan mewah yang menawarkan mengangkut kami ke Mekah. Belakangan kami ketahui tarif per orang untuk taksi dari madinah ke Mekah 50 real (142.500 rupiah dengan kurs 2850 per real). Namun mereka baru mau berangkat jika jumlah penumpang sudah mencapai minimal empat orang. Banyak rekan yang memberitahu kami sebelumnya, selain lebih murah sedikit, juga bisa lebih cepat. Jarak Madinah-Mekah yang sekitar 550 kilometer bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari empat atau bahkan tiga setengah jam.

Namun karena harus menunggu satu penumpang lagi yang belum bisa dipastikan kami harus menunggu berapa lama, pilihan pun tetap pada bus Saptco. Kebetulan jadwal berangkat bus ke Mekah yang terdekat saat itu adalah pukul 12.00 WAS. Sementara saat itu sudah pukul 11.45 WAS. Tiga tiket pun kami beli dengan harga tiket perorang 55 real.

Bus yang kami tumpangi cukup mewah dan nyaman, hampir sama dengan bus-bus antarkota milik swasta di Indonesia. Kebetulan pengemudi bus juga orang Indonesia. Walau jmlah penumpang saat itu sekitar 15 orang, bus tetap berangkat sesuai jadwal, yaitu pukul 12.00 WAS.

Jalan antarkota Madinah Mekah cukup mulus dan cenderung jalan lurus. Terdapat tiga jalur kendaraan untuk masing-masing arah, yang dipisahkan hanya dengan pagar kawat serta jalur coklat(bukan jalur hijau, karena pembatas jalan di bagian tengah adalah pasir).

Tidak seperti jalan-jalan antarkota di Indonesia, di Arab Saudi ini saya hanya bisa menimmati padang pasir, gurun pasir serta padang batuan serta gunung batu sepanjang perjalanan. Kecepatan bus saya perkirakan rata-rta 90 kilometer perjam. Menurut salah seorang mukimin yang saya temui di dalam bus, memang kalau pengemudinya orang Indonesia, cenderung sangat berhati-hati, sehingga benar-benar menjaga kecepatan. Sehingga biasanya perjalanan Madinah-Mekah bisa mencapai enam jam. Namun kalau pengemudinya orang Arab Saudi, kata mukimin ini, rata-rata suka ngebut, sehingga biasanya tidak sampai lima jam sudah tiba di Mekah.

Jalan raya Madinah-Mekah selain beraspal mulus, juga jalannya cenderung lurus. Ibarat jalan tol di Indonesia. Sayangnya, tempat peristirahatan yang ada, saya lihat cenderung apa adanya dan sangat sederhana. Tidak seperti kondisi tempat peristirahatan jalan tol di Jalan Tol Jakarta-Cikampek-Cipularang, jalan yang saya sering lewati jika saya pulang ke rumah di Purwakarta. Di mana SPBU dan tmpat istirahat, masjid dan tempat makanan sangat memadai bahkan mungkin bisa dikatakan mewah.

Setelah tiga jam perjalanan, bus yang kami tumpangi berhenti istirahat di salah satu tempat peristirahatan. Kondisinya sangat memprihatinkan, Mulai dari kondisi kamar kecilnya, kondisi bengkel yang sangat darurat. Parahnya, restoran atau mungkin tepatnya disebut warung penjual makanan di tempat peristirahatan ini hanya satu-satunya, dengan menu masakan India. Padahal banyak bus-bus antarkota yang memanfaatkan lokasi ini untuk tempat istirahat bagi penumpangnya. Di lokasi ini juga tidak tersedia SPBU.

Akhirnya karena tidak ada pilihan makanan, kamipun setelah berjuang antre panjang, bisa mendapatkan tiga porsi makanan. Menunya, masing-masing yaitu sepotong ayam bakar, nasi putih serta sayur atau semacam tumis wortel dan kacang panjang. Harga perporsi sepuluh real. Lumayan enak, mungkin karena kami juga sangat lapar saat itu. Setelah beristirahat di tempat itu sekitar setengah jam, bus yang mengangkut kami mlanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul setengah enam petang, kami memasuki kota Mekah. Tepat saat adzan Maghrib, kami tiba di tempat pemberhentian akhir bus ini, di terowongan tepat di bawah Masjidil Haram. Dari Masjidil Haram kami bertiga 'nyambung' dengan taksi dengan ongkos sepuluh real untuk ke Daker Mekah atau tempat kami tinggal semalam di Mekah ini. Alhamdulillah, setelah enam jam perjalanan dari Madinah, kami tiba di Daker Mekah.

n osa

Masjid Qiblatain, Haji 2008


Selama berada di Madinah, saya berkesempatan mengunjungi Masjid Qiblatain. Masjid yang terletak di tengah kota Madinah ini merupakan bagian dari sejarah Islam, khususnya terkait dengan perubahan arah Kiblat shalat. Yang semula arah kiblat adalah ke Masjid Al Aqsha, pindah ke arah Masjidil Haram.

Banyak pedagang kakilima menjajakan dagangannya di luar pagar masjid. Barang yang dijualnya pun sangat beragam. Miulai dari kurma, pakaian muslim, perlengkapan shalat, peci, kaset hingga pernak-pernik perhiasan wanita. Saya dan sejumlah rekan berkunjung ke masjid ini beberapa jam sebelum waktu Dhuhur. Sehingga suasana di masjid pun tidak terlalu ramai.

Masjid Qiblatain, merupakan masjid pertama yang didirkan Rasullullah SAW ketika singgah di quba dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Masjid Qiblatain terletak diatas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah. Secara harfiah masjid Qiblatain berarti masjid yang mempunyai dua kiblat. Karena di sini nabi menentukan perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

Tertulis dalam Ensiklopedi Haji dan Umrah bahwa Rasuliullah SAW melakukan hal itu menyusul datangnya perintah Allah pada pertengahan 624 M atau tahun 2 Hijriah, QS 2;144; yang berbunyi, 'sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kau berada , maka palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Khitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan'.

Terdapat beberapa riwayat yang berbeda mengenai waktu dan tempat diturunkannya perintah perpindahan Kiblat itu. Dua riwayat di antaranya, pertama riwayat yang mengatakan, bahwa sewaktu Nabi hendak mengerjakan shalat subuh di Masjid Quba tiba-tiba turunlah ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan Kiblat shalat ke arah Masjidil Haram. Artinya secara penuh dan untuk pertama kali Rasulullah SAW mengerjakan sholat subuh menghadap masjidil Haram.

Riwayat kedua menyebutkan bahwa perintah untuk mengalihkan Kiblat turun sewaktu Rasulullah selesai melakukan Ta`ziyah di kampung Salamah, persisnya di rumah Ny.Ummi Basyar. Ketika waktu shalat Dhuhur tiba, turunlah wahyu untuk mengubah arah Kiblat. Perubahan Kiblat tersebut (dari Baitul Makdis ke Masjidil Haram) adalah pada hari Rajab 12 H. Menurut riwayat, ketika itu Rasulullah shalat menghadap ke Masjid Al Aqsha. Tetapi setelah Nabi selesai rakaat kedua, wahyu turun untuk memerintahkan mengubah arah Kiblat. Kemudian Rasulullah beserta jemaahnya segera menghentikan shalat lalu berputar 180 derajat menghadap ke arah kiblat baru diikuti para jemaahnya.

Jadi menurut riwayat ini, shalat Dhuhur Rasulullah ketika itu dua rakaat ke Masjid Al Aqsa dan dua rakaat menghadap Masjidil Haram. Riwayat lain, karena kesulitan teknis yang ditimbul, apalagi ketika nabi sedang memimpin shalat di antara para sahabat, agak lebih mungkin bahwa realisasi pertama dari perintah memindahkan Kiblat adalah dilakukan Rasulullah ketika di Masjid Quba sewaktu Rasulullah hendak melakukan shalat subuh.

Apapun yang terjadi kedua masjid tersebut memiliki mihrab-mihrab baik yang menghadap ke Masjid Al Aqsha maupun Masjidil Haram. Akan tetapi kenyataannya masjid Quba lebih dikenal dengan nama aslinya Masjid Quba, sedangkan masjid Bani Salimah lebih dikenal dengan nama masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain beberapa kali dipugar dan diperbaharui. Di antara orang yang dikenal membangun dan memperbaharuinya adalah Al Syuja`i Syahin Al Jamaly pada tahun 893 H/1543 M. Kemudian diperbaharui pula oleh Sultan Sulaiman pada 950 H. Walaupun beberapa kali diperbaharui tetapi tetap diperttahankan ciri khas yaitu ke dua mihrabnya.

Saya dan rekan-rekan pun menyempatkan shalat Sunah dua rakaat di Masjid sangat bersejarah ini. Setelah mengunjungi Masjid Qiblatain, saya dan rekan-rekan mengunjungi Masjid Quba dan sekaligus menunaikan shalat Dhuhur di masjid tersebut.

n osa

Percetakan Alquran Madinah, Haji 2008

Selama empat hari berada di Madinah, saya berkesempatan mengunjungi Kompleks Percetakan Alquran Raja Fahd. Percetakan Alquran ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Raja Fahd pada tahun 1982. Dua tahun kemudian, kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 250 ribu meter persegi ini diresmikan oleh Raja Fahd.

Percetakan Alquran Raja Fahd mempekerjakan 1700 pegawai. Setidaknya sejak pertama berdiri, sudah dua juta Muslim telah berkunjung ke percetakan Alquran yang terletak di pusat kota Madinah dan bersebelahan dengan kompleks militer Arab Saudi di Madinah. Kaum hawa tidak diperkenankan untuk memasuki atau mengunjungi kompleks percetakan ini.

Percetakan Alquran ini setiap tahunnya memproduksi lebih dari sepuluh juta Alquran. Namun jika dikehendaki, percetakan ini mampu mencetak lebih dari 30 juta Alquran setiap tahunnya, dengan sistem kerja tiga shift. Alquran hasil produksi tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Antara lain bahasa Afrika, bahasa China, Korea, Indonesia, dan Eropa. Ini semua dijelaskan oleh Humas percetakan ini, Yasin Umar dan diterjemahkan oleh salah seorang Tenaga Musiman (Temus) PPIH, Munif Attamimi.

Hebatnya, sebelum Alquran ini dilepas ke pasar, tahapan yang harus dilalui sangat banyak dan cukup rumit. Sebelum dicetak pada media yang kertas cetak sebenarnya, para kaligrafer menorehkan tulisan-tulisan huruf Al Quran tanpa titik dan baris diatas kertas transparan. Kemudian hasil tulisan para kaligrafer itu langsung dikirimkan ke ulama-ulama untuk dilakukan pemeriksaan secara mendetail dan teliti. Setelah melakukan pemeriksaan, tim yang terdiri dari ulama-ulama besar itu langsung menemui penulisnya.

Menurutnya, apabila sudah benar maka akan dilanjutkan dengan tahapan berikutnya, yakni memberikan titik untuk huruf-huruf tertentu, pada halaman yang ada, selanjutnya kembali dikirimkan ke panitia untuk diteliti kebenarannya. Apabila sudah benar, selanjutnya tahapan ketiga diberikan baris-barisnya, berikutnya memberikan tanda-tanda wakaf. Serta tahapan kelima akan memberikan nomor-nomor ayat, dan halaman.

Kalau ada kesalahan sekecil apapun, ada titik yang lebih misalnya siin, sekecil apapun pasti akan dikembalikan. Dan yang salah-salah tadi akan dikirim ke tempat pemusnahan. Begitu juga hasil yang catat, benang tidak rapat, atau kertas berlebih, melipat, langsung dimusnahkan.

Jadi untuk menjaga kualitas, Alquran yang diproduksi juga melewati tiga tahapan pengecekan dan pemeriksaan. Yaitu pertama //text control//, //quality control// dan terakhir //final control//.

Selain secara teliti menghasilkan Al Quran baik bentuk versi cetak dan audio CD/kaset, juga mencetak jurnal-jurnal serta melakukan penelitian dan melakukan kajian mengenai kandungan isi Al Quran. Salah satunya bertujuan untuk membantah adanya penyimpangan terhadap kandungan isi Alquran.

Dalam kompleks ini terdapat gedung pusat penelitian dan pengembangan Dirosah Islamiyah, Al Quran, As-Sunnah. Disamping gedung-gedung lain seperti tempat percetakan, pelatihan petugas, gedung tempat penyimpanan hasil percetakan, pemusnahan sisa percetakan, reparasi alat-alat percetakan, serta perumahan untuk para pejabat dan tamu VVIP.

Bagaimana di tanah air? Pemerintah Indonesia kini telah memiliki percetakan Alquran. Pada pertengahan bulan lalu, Menter Agama Muhammad Maftuh Basyuni tidak kuasa menahan haru dan meneteskan air mata saat memberi sambutan pada peresmian operasional percetakan Alquran Departemen Agama (Depag) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Menag Maftuh terharu karena dirinya sejak tahun 70-an sudah mengatakan, umat Islam begitu banyak, kenapa tidak mampu mendirikan percetakan Al Quran, setelah percetakan yang lama hancur.

Kehadiran percetakan Al Quran ini, menurut Menag saat itu, diharapkan menjadi salah satu ikon dakwah Islam. Sekaligus momentum untuk memperkuat upaya memberantas buta baca-tulis Al Quran di kalangan anak-anak dan remaja, dan juga memberantas buta pemahaman terhadap kandungan Al Quran di masyarakat.

Menag Maftuh berharap percetakan Alquran yang dibangun dengan biaya Rp 30 miliar ini mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dan tidak ada lagi Alquran yang salah cetak.

Percetakan ini berdiri di atas lahan seluas 1.530 meter persegi dan dilengkapi berbagai alat percetakan yang menjamin hasil cetakan dalam kualitas prima. Kapasitas produksinya sampai 1,5 juta eksemplar per tahun. Untuk cetakan perdana, akan dicetak Al Quran Juz Amma dilengkapi Iqro yang akan dicetak berwarna dengan ukuran buku saku. Tahun depan percetakan di Ciawi ini siap mencetak tafsir Al Quran. Selain Alquran, percetakan ini juga akan mencetak berbagai buku agama dan kebutuhan Depag.

n osa

Uhud, Haji 2008


Hari kedua berada di Madinah, saya berkesempatan untuk berziarah ke wilayah Gunung Uhud atau Jabal Uhud. Posisi gunung Uhud ini persis di pinggir jalan raya Madinah-Mekah. Karenanya sebelum pemerintah Arab saudi membangun jalan baru, Gunung Uhud selalu menjadi pemandangan yang menarik bagi setiap pengunjung atau jamaah yang ingin memasuki Madinah maupun yang menuju Mekah.

Posisi Gunung Uhud sekitar enam hingga hingga tujuh kilometer dari Masjid Nabawi. Gunung Uhud ini merupakan gunung batu hitam yang diselimuti oleh tanah kering dengan ketinggian sekitar 1050 meter. Di wilayah sekitar Gunung Uhud ada sebuah bukit yang disebut sebagai Bukit Panah atau Bukit Pemanah. Selain itu terdapat lokasi lahan pekuburan atau makam yang berukuran sekitar 50 kali 50 meter. Makam ini merupakan makam para Syuhada Perang Uhud. Pemakaman ini dikelilingi oleh pagar kawat setinggi 1,75 meter.Tak ada batu nisan atau tumpukan batu di pemakaman ini. Komplek makam ini hanya berupa hamparan tanah saja. Tak jauh dari lokasi pemakaman terdapat sebuah masjid lumayan besar.

Banyak pedagang kaki lima berjualan di sekitar lokasi Gunung Uhud ini. Mulai dari tasbeh, pici, pakaian, kurma, hingga rumput fatima, serta pernak-pernik perhiasan wanita. Wilayah di sekitar Gunung Uhud ini menjadi salah satu tempat berziarah bagi kaum Muslimin yang khususnya melaksanakan ibadah haji dan umrah. Pasalnya, gunung ini tercatat sebagai salah satu tempat bersejarah dalam Islam.

Di kaki gunung Uhud pernah terjadi peperangan antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy, sehingga perang tersebut dinamakan Perang Uhud. Menurut buku ensiklopedihaji dan umrah, perang ini terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban tahun ke-3 Hijriah bertepatan dengan 23 Maret 625 Masehi. Perang Uhud terjadi setelah usai perang Badar. Pada perang Badar ini, kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan telak. kekalahan ini membuat terbakarnya semangat para pemimpin Quraisy untuk melakukan serangan kembali pada kaum Muslimin.

Panglima perang kaum Quraisy pada perang Uhud ini dipercayakan pada Abu Sofyan. Ia mengomandoi tak kurang dari 3000 prajurit dan 700 di antaranya dilengkapi dengan baju besi. Mereka juga membawa 3000 ekor unta dan 200 ekor kuda.

Sementara Rasulullah SAW bersama pasukannya yang berjumlah 1000 orang, juga bergerak ke Gunung Uhud. Hanya saja 300 pasukannya dalam perjalanan, berbalik arah membelot. Pembelotan 300 pasukan ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Dengan demikian Rasulullah tinggal memiliki 700 orang pasukan. Setibanya di bukit itu, Rasulullah SAW memerintahkan 50 orang pemanah unggul di bawah pimpinan Abdullah bin Zubair untuk menempati posisi di puncak bukit. Rasulullah SAW berpesan agar mereka tidak meninggalkan posisi itu dalam situasi dan kondisi apapun. Strategi ini bertujuan untuk mengantisipasi serangan kaum kafir dari garis belakang.

Kedua pasukan pun saling berhadapan. Kaum Muslimin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy, menyusul terbunuhnya sejumlah pimpinan pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy mundur dengan meninggalkan harta benda mereka. Merasa melihat situasi sudah menang, pasukan pemanah kaum Muslimin yang berada di puncak Uhud pun turun.

Namun ternyata kesempatan ini dimanfaatkan oleh komandan perang Quraisy Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam). Khalid dan pasukannya menyerang dari puncak bukit yang telah ditinggalkan oleh pasukan pemanah Rasulullah SAW tersebut. Akhirnya tercatat setidaknya 70 kaum Muslimin gugur sebagai Syuhada. Termasuk Mus'ab bin Umair, yang terkenal sebagai pembawa panji tentara Islam. Juga turut gugur komandan perang kaum Muslimin yang sangat disegani dan ditakuti, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW.

Kekalahan yang menimpa kaum Muslimin dalam peperangan ini semata-mata sebagai konsekuensi dari kurang disiplinnya sebagian sahabat. Mereka lalai terhadap perintah Rasulullah SAW untuk tidak meninggalkan puncak bukit. Semua Syuhada Perang Uhud dikuburkan di lokasi perang. Ini dilakukan atas perintah Rasulullah SAW. Dalam Alquran, Perang Uhud dan segala hikmahnya dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 152-158 dan 165-167. tentunya, banyak hikmah yang bisa diteladani para peziarah dan kaum Muslimin dari peristiwa Perang Uhud ini.
 
n osa

Uhud, Haji 2008


Hari kedua berada di Madinah, saya berkesempatan untuk berziarah ke wilayah Gunung Uhud atau Jabal Uhud. Posisi gunung Uhud ini persis di pinggir jalan raya Madinah-Mekah. Karenanya sebelum pemerintah Arab saudi membangun jalan baru, Gunung Uhud selalu menjadi pemandangan yang menarik bagi setiap pengunjung atau jamaah yang ingin memasuki Madinah maupun yang menuju Mekah.

Posisi Gunung Uhud sekitar enam hingga hingga tujuh kilometer dari Masjid Nabawi. Gunung Uhud ini merupakan gunung batu hitam yang diselimuti oleh tanah kering dengan ketinggian sekitar 1050 meter. Di wilayah sekitar Gunung Uhud ada sebuah bukit yang disebut sebagai Bukit Panah atau Bukit Pemanah. Selain itu terdapat lokasi lahan pekuburan atau makam yang berukuran sekitar 50 kali 50 meter. Makam ini merupakan makam para Syuhada Perang Uhud. Pemakaman ini dikelilingi oleh pagar kawat setinggi 1,75 meter.Tak ada batu nisan atau tumpukan batu di pemakaman ini. Komplek makam ini hanya berupa hamparan tanah saja. Tak jauh dari lokasi pemakaman terdapat sebuah masjid lumayan besar.

Banyak pedagang kaki lima berjualan di sekitar lokasi Gunung Uhud ini. Mulai dari tasbeh, pici, pakaian, kurma, hingga rumput fatima, serta pernak-pernik perhiasan wanita. Wilayah di sekitar Gunung Uhud ini menjadi salah satu tempat berziarah bagi kaum Muslimin yang khususnya melaksanakan ibadah haji dan umrah. Pasalnya, gunung ini tercatat sebagai salah satu tempat bersejarah dalam Islam.

Di kaki gunung Uhud pernah terjadi peperangan antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy, sehingga perang tersebut dinamakan Perang Uhud. Menurut buku ensiklopedihaji dan umrah, perang ini terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban tahun ke-3 Hijriah bertepatan dengan 23 Maret 625 Masehi. Perang Uhud terjadi setelah usai perang Badar. Pada perang Badar ini, kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan telak. kekalahan ini membuat terbakarnya semangat para pemimpin Quraisy untuk melakukan serangan kembali pada kaum Muslimin.

Panglima perang kaum Quraisy pada perang Uhud ini dipercayakan pada Abu Sofyan. Ia mengomandoi tak kurang dari 3000 prajurit dan 700 di antaranya dilengkapi dengan baju besi. Mereka juga membawa 3000 ekor unta dan 200 ekor kuda.

Sementara Rasulullah SAW bersama pasukannya yang berjumlah 1000 orang, juga bergerak ke Gunung Uhud. Hanya saja 300 pasukannya dalam perjalanan, berbalik arah membelot. Pembelotan 300 pasukan ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Dengan demikian Rasulullah tinggal memiliki 700 orang pasukan. Setibanya di bukit itu, Rasulullah SAW memerintahkan 50 orang pemanah unggul di bawah pimpinan Abdullah bin Zubair untuk menempati posisi di puncak bukit. Rasulullah SAW berpesan agar mereka tidak meninggalkan posisi itu dalam situasi dan kondisi apapun. Strategi ini bertujuan untuk mengantisipasi serangan kaum kafir dari garis belakang.

Kedua pasukan pun saling berhadapan. Kaum Muslimin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy, menyusul terbunuhnya sejumlah pimpinan pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy mundur dengan meninggalkan harta benda mereka. Merasa melihat situasi sudah menang, pasukan pemanah kaum Muslimin yang berada di puncak Uhud pun turun.

Namun ternyata kesempatan ini dimanfaatkan oleh komandan perang Quraisy Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam). Khalid dan pasukannya menyerang dari puncak bukit yang telah ditinggalkan oleh pasukan pemanah Rasulullah SAW tersebut. Akhirnya tercatat setidaknya 70 kaum Muslimin gugur sebagai Syuhada. Termasuk Mus'ab bin Umair, yang terkenal sebagai pembawa panji tentara Islam. Juga turut gugur komandan perang kaum Muslimin yang sangat disegani dan ditakuti, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW.

Kekalahan yang menimpa kaum Muslimin dalam peperangan ini semata-mata sebagai konsekuensi dari kurang disiplinnya sebagian sahabat. Mereka lalai terhadap perintah Rasulullah SAW untuk tidak meninggalkan puncak bukit. Semua Syuhada Perang Uhud dikuburkan di lokasi perang. Ini dilakukan atas perintah Rasulullah SAW. Dalam Alquran, Perang Uhud dan segala hikmahnya dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 152-158 dan 165-167. tentunya, banyak hikmah yang bisa diteladani para peziarah dan kaum Muslimin dari peristiwa Perang Uhud ini.
 
n osa

Masjid Nabawi, Haji 2008


Senin 22 Desember, saya berkesempatan untuk 'bergeser' dari kota Mekah ke kota Madinah. Untuk pertamakalinya dalam semumur hidup saya dan pertamakali pula selama saya hampir dua bulan di Arab Saudi, mengunjungi dan berziarah di kota Madinah.

Sejak awal saya diingatkan oleh rekan-rekan yang berada di Madinah untuk membawa pakaian hangat, kaos tangan dan tutup kepala dan telinga, karena cuaca yang cukup ekstrim di Madinah. Sesampai di Madinah, Alhamdulillah cuaca yang saya rasakan tidak seperti hari-hari sebelumnya. Rekan-rekan juga mengatakan bahwa kebetulan hari itu beda cuacanya dengan hari-hari sebelumnya yang begitu dingin mencapai delapan hingga 11 derajat Celcius.

Saya menginap di Hotel tempat para petugas Daerah keja (Daker) Madinah menginap. Setelah melepas lelah sejenak sehabis perjalanan Mekah-Madinah yang sekitar tujuh jam, saya langsung menuju Masjid Nabawi, yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel saya menginap.

Subhanallah, masjid ini begitu besar, megah dan anggun. Apalagi di malam hari, nampak indah dengan sistem pencahayaan yang sangat bagus. Berdasarkan buku ensiklopedi haji dan umrah, Masjid Nabawi adalah masjid yang pertama sekali dibangun Rasulullah SAW bersama para sahabatnya dan kaum Muslimin di Madinah. Pembangunan dimulai pada Rabiul Awal tahun 1 Hijriah bersamaan pada bulan September tahun 662 Masehi. Jamaah atau pengunjung yang shalat di masjid ini juga tentunya ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Posisi makam Rasulullah SAW berada dalam Masjid Nabawi. Di samping makam Rasulullah SAW terdapat makam sahabat Abu Bakar Shidiq dan Umar bin Khatab. Di dalam Masjid Nabawi ini terdapat tempat yang mustajab untuk berdoa yang disebut Raudah. beberapa koleksi berharga peninggalan Rasulullah juga terdapat di dalam masjid ini. Seperti mimbar dan mihrab yang pernah digunakan Rasulullah SAW.

Saat ini luas lantai Masjid Nabawi sekitar 98 ribu meter persegi dan dapat menampung 167 ribu jamaah. Sedangkan lantai atas dapat digunakan untuk shalat seluas 67 ribu meter persegi dan mampu menampung 90 ribu jamaah. Jika pelataran masjid dipenuhi jamaah shalat terutama pada musim haji, maka daya tampung Masjid Nabawi dan pelatarannya sekitar satu juta jamaah.

Terdapat 10 buah menara di masjid ini dengan ketinggian masing-masing 92 meter. Pada setiap puncak menara terdapat ornamen 'bulan sabit' dari bahan perunggu yang dilapisi emas 24 karat dengan tinggi tujuh meter dan berat 4,5 ton. Pada ketinggian 87 meter dipasang sinar laser yang memancarkan cahaya ke arah Mekah yang cahayanya terlihat sampai sejauh 50 kilometer, untuk menunjukkan arah Kiblat. Guna menambah penerangan dan keindahan di dalam masjid lama, terdapat ruang berpilar warna kuning pastel, dipasang 674 lampu kristal yang tidah menyebabkan rasa panas. Lampu-lampu hias ini disusun dengan kerangka dari bahan kuningan berlapis emas.

Untuk pengaturan udara dalam ruangan, dibuat 27 ruang terbuka dengan ukuran masing-masing 18 kali 18 meter. Sebagai atap, dibuat kubah yang dapat dibuka dan ditutup secara elektronik dan juga dapat secara manual. Setiap kubah memilik berat 80 ton terbuat dari kerangka baja dan beton yang dilapis kayu pilihan dengan hiasan relief.

Untuk menyejukkan masjid, dibangun satu unit AC sentral raksasa di atas tanah seluas 70 ribu meter yang terletak tujuh kilometer sebelah barat masjid. Hawa dingin yang dihasilkan AC ini dialirkan melalui pipa bawah tanah yang didistribusikan ke setiap penjuru masjid melalui bagian bawah setiap pilar yang berjumlah 2.104 buah.

Pada bagian tengah Masjid Nabawi terdapat dua ruang terbuka yang setiap ruangan dilengkapi masing-masingnya enam buah payung artistik dan otomatis. Fasilitas lainnya tersedia basement seluas 73.500 meter dan tinggi 4,5 meter yang digunakan untuk menempatkan pusat-pusat pengaturan elektronik, mekanik, sound system serta AC. Untuk mengantisipasi listrik padam, telah disiapkan cadangan pembangkit listrik darurat sebanyak delapan unit yang mampu menghasilkan 2,5 Mega Watt.

Fasilits parkir di masjid ini mampu menampung 4.500 mobil. Juga terdapat toilet sebanyak 2500 unit, tempat wudhu 6.800 pancuran atau kran serta terdapat 650 lokasi tempat minum air dingin.

n osa

Thaif, Haji 2008

Hawanya sejuk, cendrerung dingin. Sekitar 20 derajat Celcius. Jarak dari kota Mekah sekitar 65 kilometer arah tenggara. Thaif, kota ini berhawa sejuk karena berada di lembah pegunungan Asir. Karena kesejukan udaranya ini, kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata di musim panas.

Bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini. Sehingga Thaif juga mendapat julukan Qaryah al Mulk atau desa para raja. Di kota ini juga sering diselenggarakan pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian bilateral, regional dan internasional.

Thaif juga terkenal dengan kekayaan produksi pertaniannya. Buah-buahan seperti anggur, korma dan lainnya, dihasilkan oleh daerah yang subur ini. Selain itu, juga berbagai macam sayuran dan bunga-bungaan, juga tumbuh subur dan menjadi salah satu andalan produksi pertanian kota ini. Bunga seperti ambar, misik da yasmin dijadikan sebagai bahan baku pembuat minyak wangi.

Seperti tercantim pada Buku Ensiklopedi Haji dan Umrah, kota Thaif juga mengukir sejarah tersendiri. Kepada penduduk kota ini, Rasulullah SAW pernah menggantungkan harapannya agar dakwah Islam dapat diterima, setelah awalnya ditolak dan dihina oleh penduduk Mekah. Namun sayang dan tragisnya, penduduk Thaif pada waktu itu menolak mentah-mentah dakwah Nabi dan bahkan mengusir dan melempari Nabi dengan cara yang sangat kasar.

Peristiwa Thaif tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa yang dialami Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Mereka baru saja lepas dari boikot ekonomi yang dilancarkan oleh kaum Quraisy. Boikot ini membuat mereka menderita kelaparan selama lebih dua tahun.

Setelah lepas dari boikot tersebut, Rasulullah menerima ujian berat yang datang secara beruntun. Yaitu meninggalnya istri Rasulullah SAW, Siti Khadijah pada bulan Desember 619 M dan pamannya Abu Thalib pada bulan Januari 620 M. Kematian keduanya menimbulkan dampak yang besar dan luas. Orang-orang kafir Quraisy lebih leluasa dan meningkatkan tekanan dan penganiayaan ats umat Islam. Karena tidak ada lagi sosok Abu Thalib dan Khadijah. Karena keduanya memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat disegani.

Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat itulah secara diam-diam dan dengan berjalan kaki, Rasulullah mencoba pergi ke Thaif untuk meminta pertolongan dan perlindungan. Rasulullah tinggal di Thaif selama sepuluh hari untuk berdakwah dan meminta perlindungan. Serta memohon agar mereka tidak memberitahukan kepada orang-orang kafir Mekah saat itu tentang kedatangannya di Thaif. Namun ternyata penduduk Thaif melakukan penolakan dan memperlakukan Rasulullah dengan kasar.

Rasulullah SAW pun kemudian berlindung di balik pagar sebidang kebun milik Utbah dan Saybah bin Rabi'ah. Yang belakangan keduanya tewas oleh pedang Ali dan Hamzah pada perang Badar beberapa tahun kemudian.

Rasulullah SAW memanjatkan doa pada Allah SWT memohon perlindungan, hingga datnglah Uthbah dan Saybah yang kemudian menolong Rasulullah SAW. Cuplikan sejarah perjuangan Rasulullah ketika mengemban amanat dakwah Islam yang terjadi di Thaif, membuat kota ini memilii nilai sejarah yang tinggi. Para peziarah banyak yang berminat untuk mengunjungi daerah ini guna mengambil pelajaran berharga dari sejarah perjuangan Rasulullah SAW,

n osa

Roti Sami, Haji 2008


Kebiasaan kebanyakan orang di Arab Saudi ini menyantap roti sami untuk makan siang dan makan malam. Tidak hanya bagi penduduk asli kota Mekah saja, nampaknhya kebiasaan ini juga 'terpaksa' diikuti oleh para mukimin dari berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan termasuk mukimin dari Indonesia.

Pasalnya, lumayan sulit untuk mendapatkan makanan khas atau yang biasa mereka santap di negara mereka masing-masing. Antrean panjang tampak pada dua toko kecil yang bersebelahan penjual roti sami di dekat Masjidil Haram. Mereka rela antri untuk mendapatkan roti berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 cm dan dijual dengan harga 2,5 real perbuah.

Dua toko penjual roti sami ini dilengkapi dengan tungku atau oven pembakaran roti yang terbuat dari semacam tanah liat. Jadi roti yang dijual benar-benar masih hangat, //fresh from the oven//. Roti ini rasanya tawar, sama halnya dengan roti tawar di tanah air. Hanya saja permukaan roti yang berbentuk pipih ini agak keras kehitaman karena hasil pemanasan dari oven tradisional tersebut. Pembeli biasa menyantap roti sami ini dengan semacam selai kacang, keju putih atau buah zaitun.


n osa

Ta’sya ala Arab

Terus terang, walau sudah 12 hari ini saya berada di Mekah, makanan khas Arab yang pernah saya makan, baru Nasi Kebuli. Itupun kebetulan pada acara berdoa bersama seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Mekah di Padang Arafah beberapa hari lalu. Sekali lagi, pada acara Ta’aruf kepala sektor satu hingga 17 yang ada di Mekah dengan pengurus perumahan atau maktab yang sebagian besar orang Arab.
Sehari-hari saya selama di Mekah, selalu makan makanan khas Indonesia. Pasalnya setiap hari di Wisma Haji atau Kantor Daerah kerja (Daker) Mekah, katering kami justru selalu menyajikan makanan khas Indonesia. Seperti rendang, bakso, ayam goreng, urap, sop daging, tahu tempe, oreg tempe, sayur lodeh, sayur asem dan lainnya. Dengan citarasa tinggi dan sangat mengundang selera tentunya. Kami, tujuh orang yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Mekah pun ingin merasakan makanan khas Arab lainnya selain nasi kebuli.
Usai liputan simulasi transportasi untuk jamaah haji Indonesia selama di Mekah pada Kamis lalu, kami pun ke pasar swalayan Noori yang terletak tak jauh dari Wisma Haji Mekah. Sebetulnya kami ke pasar swalayan ini ingin sekedar membeli minuman jus dalam kemasan. Namun salah satu rekan kami, Azhar Azis dari Sindo ‘diam’diam’ langsung menuju ke tempat bagian makanan di pasar swalayan itu. Ternyata ia ditemani pengemudi ‘pribadi’ kami, Pak Deden langsung belanja sejumlah makanan khas Arab. Kebetulan, menurut Azhar, si penjaga counter makanannya juga orang Indonesia.
Kami kaget ketika setiba di Wisma Haji, tiba-tiba Azhar mengajak kami semua untuk makan bersama. Ia pun membuka sekantong plastik besar berisi makanan. Satu persatu dikeluarkan. Ada Roti Sami (roti panggang berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 25 cm), buah Zaitun, Jubnah (keju putih), Halawah Taheniah (Selai kacang berwarna putih) serta Gistoh (keju krim). ”Nah, kita ‘coba’in’ makan malam ala orang Arab,” kata Azhar yang diamini Pak Deden. Sambil menyantap makanan tersebut, Pak Deden menjelaskan satu-persatu nama-nama jenis makanan itu. Biasanya, orang Arab di Arab Saudi ini menyantap makanan tersebut sembari ditemani Sahi atau teh manis khas Arab. Makan ramai-ramai duduk lesehan dengan makanan dalam satu wadah atau nampan seperti ini, kalau di kampung saya di Tasikmalaya, disebut ‘Ngaliwet’.
Konon kebiasaan orang Arab di Arab Saudi ini, jam makan malamnya atau Ta’sya adalah sekitar pukul 23.00 hingga pukul 00.00. Mereka belum ‘marem’ kalau belum makan roti sami dengan ‘lauk pauk’ seperti yang saya ceritakan di atas. Di pagi hari, mereka biasa menyantap roti dengan isi ‘omelette’ atau kita menyebutnya dengan telur dadar. Sarapan pagi atau yang biasa disebut Futur ini dilakukan sekitar pukul 10.00 hingga pukul 11.00. Nah, pada makan siang atau mereka menyebut Taqodho, Orang Arab ini biasanya menyantap nasi kebuli, nasi buchori atau lainnya, lengkap dengan lauk daging kambing dengan porsi yang mungkin bagi ukuran orang Indonesia, bisa disantap untuk dua atau tiga orang.
Jam makan siang mereka pun sebetulnya bisa dikatakan sudah menjelang sore. Yaitu sekitar habis Shalat Ashar. Sehingga jam makan malam merekapun bergeser ke tengah malam bahkan hampir dinihari berikutnya.
Sebetulnya walau pertama kali mencoba, makanan yang biasa dimakan pada malam hari oleh orang Arab ini, citarasanya masih cukup familiar dengan lidah orang Indonesia. Apalagi kalau kebetulan perut dalam kondisi lapar. Alhamdulillah, kami pun tujuh wartawan yang tergabung dalam MCH Daker Mekah atau biasa kami menyebut sebagai ‘Seven Samurai’ beserta Pak Deden, bisa sama-sama merasakan makan malamnya orang Arab di Tanah Haram ini, atau Ta’sya ala Arab.
n osa

Pak Slamet, Haji 2008

Keinginan utama Pak Slamet ke tanah suci adalah utamanya untuk menunaikan ibadah haji. Selain itu, Pak Slamet juga ingin memperbanyak beribadah menjalankan shalat lima waktu di Masjidil Haram. Sayangnya, kondisi jauhnya pondokan dan sarana transportasi yang kurang menunjang selama di Mekah, Pak Slamet hanya sempat beberapa kali saja beribadah shalat wajib di Masjidil Haram.

Pak Slamet dan Bu Slamet tergabung dalam kloter 44 Surabaya. Kloter dengan jumlah jamaah sekitar 400 orang ini mendapatkan pondokan di wilayah Aziziah, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Masjidil Haram. Tak banyak yang diharapkan Pak Slamet dari pelayanan haji yang diberikan oleh pemerintah. Ia bahkan masih bisa memaklumi kondisi pondokan yang jauh. ''Asal bisa diimbangi dengan transportasi yang memadai dan memudahkan kita ke Masjidil Haram, itu tidak terlalu masalah,'' demikian kata Pak Slamet.

Sementara kondisi yang dihadapi Pak Slamet beserta rekan-rekan satu kloter dan hampir seluruh jamaah haji Indonesia, sudah pondokannya jauh, sebagian besar dari mereka juga menilai masalah transportasi minim dan 'bermasalah', Ulah sejumlah oknum pengemudi bis yang sebagian besar orang Mesir yang mebutip uang antara satu hingga tiga real per jamaah, setidaknya merupakan salah satu angka merah dari sisi transportasi. Angka merah lainnya adalah kecukupan ketersediaan bis bagi ratusan ribu jamaah yang banyak dipertanyakan oleh Pak Slamet dan kebanyakan jamaah lainnya.

Pasalnya, kondisi riil di lapangan adalah banyaknya keluhan dari jamaah bahwa mereka sulit untuk mendapatkan bis angkutan yang disediakan pemerintah. Sehingga banyak dari jamaah yang 'terpaksa' merogoh 'koceknya' sendiri untuk naik angkutan umum ke Masjidil Haram dan pulang ke pondokannya. Seperti yang dialami Nurul Agustina, jamaah kloter 20 JKG Banten. ''Sudah kita dikutip antara tiga hingga empat real per jamaah, bisnya pun jarang ada,'' papar Nurul.

Belum lagi persoalan makanan katering yang diberikan oleh pemerintah tiga hari sebelum hari-hari Armina. Banyak jamaah yang mengeluhkan kondisinya sangat tidak layak, bahkan ada beberapa yang sudah basi dan berjamur. Saya pun sempat memantau langsung ke lapangan kondisi makanan ini dan memang terbukti demikian. Selain itu, pendistribusian makanan ini juga 'kacau'. Seperti makanan yang seharusnya untuk makan siang, baru diterima jamaah sore bahkan malam. Tak sedikit pula pondokan yang sama sekali tidak mendapatkan makanan ini. Hingga akhirnya makanan dari pemerintah yang direncanakan juga akan diberikan selama tiga hari setelah proses Armina, akhirnya dibatalkan.

Kondisi riil lainnya yang dihadapi jamaah adalah beberapa pondokan kondisinya sangat tidak layak. Temuan saya di lapangan, pondokan yang tak layak ini justru berda di ring satu atau berjarak kurang dari 1400 meter dari Masjidil Haram. Beberapa saya temukan, kondisi pondokan sangat kumuh, kotor dan bau, bahkan sejumlah penjaga rumah, mengisi galon air minum untuk jamaah dengan air kran. Belum lagi masalah kebutuhan air untuk mandi dan cuci yang di beberapa pondokan beberapa kali terjadi keterlambatan pasokan air.

Tidak hanya jamaah yang mengaku kaget dengan kondisi jauhnya pondokan, Menteri Agama Maftuh Basyuni pun mengaku kaget. ''Saya kira dibilang jauh itu ya jauh saja, bukan sangat jauh seperti ini. Ini bisa dikatakan Yaumil Akhir, ujung dunia. Saya menangis melihat kondisi ini,'' papar Menag yang juga sebagai Amirul Hajj.

Bahkan sesaat setelah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah pondokan, Tim Khusus ini diminta untuk melaporkan langsung sebetulnya bagaimana kondisi riil pondokan bagi jamaah haji Indonesia yang tersebar di 15 sektor dan terdiri jumlahnya mencapai 600 lebih gedung atau pondokan. ''Laporkan secara rinci temuan kalian di lapangan. Kondisi perumahan seperti apa, masalah air, AC, jumlah jamaah dalam satu kamar dan lainnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi,'' pesan Abdul Gani, Kepala Pelayanan Keamanan (PAM) Teknis Urusan Haji (TUH) pada tim khusus ini. Menteri pun kemudian meminta maaf pada jamaah atas kondisi yang dialami jamaah pada musim haji 2008 ini dan berjanji akan memperbaikinya pada musim haji tahun depan.

Saat ini posisi Pak Slamet dan Bu Slamet sudah di Madinah, yang dalam beberapa hari ke depan akan pulang ke tanah air. Sementara Nurul Agustina juga tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Jedah yang kemudian langsung pulang ke tanah air. Mungkin bagi mereka, semua persoalan yang dihadapi tersebut akan sekejap bisa terlupakan.

n osa

Ka'bah, Haji 2008


Hampir separuh dari seluruh jamaah haji Indonesia sudah melakukan Thawaf Wada atau Thawaf perpisahan. Selanjutnya, sebagian ada yang pulang melalui bandara King Abdul Aziz di Jedah, sebagian lagi yang masuk dalam gelombang dua, bergeser ke Madinah untuk melaksanakan Arbain (Shalat 40 Waktu bertutur-turut di Masjid Nabawi) yang kemudian langsung pulang ke tanah air.

Saya pun dan seluruh petugas MCH Mekah serta seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Mekah, dijadwalkan tanggal 2 Januari mendatang akan meninggalkan kota Mekah. Saya, seluruh petugas MCH, seluruh PPIH dan tentunya seluruh jamaah haji Indonesia tentunya akan sangat merindukan untuk kembali lagi ke tanah suci ini dan melihat, mengagumi serta beribadah di depan keagungan Rumah Allah SWT, Ka'bah.

Dalam bahasa Arab, Ka'bah berarti bangunan yang berbentuk kubus atau segi empat. Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah, disebutkan bahwa dalam pengertian terminologi Islam, merupakan bangunan berbentuk kubus yang berlokasi di pusat Masjidil Haram dan merupakan Kiblat atau arah shalat umat Islam di seluruh dunia.

Dalam Alquran kata Ka'bah ditemukan dua kali (selain kata al bait yang juga berarti Ka'bah), yaitu pad surat Al Maidah ayat 95 dan 97. Di ayat 97, yang artinya 'Allah SWT telah menjadikan Ka'bah rumah suci tempat manusia berkumpul (Ka'bah dan sekitarnya menjadi tempat yang aman bagi manusia untuk mengerjakan urusan-urusan yang berhubungan dengan dunia dan akhirat dan pusat ibadah haji).

Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim as bersama putranya Nabi Ismail as. Ketika pembangunan sampai pada sebuah sudut, Nabi Ibrahim meletakkan sebuah batu berwarna putih cemerlang yang dibawakan oleh Jibril kepada mereka. Batu ini dalam pembangunan selanjutnya berubah menjadi hitam dan hingga sekarang dikenal dengan Hajar Aswad. Ketika bangunan Ka'bah sudah tinggi, Nabi Ibrahim terus menyusun batu-batu dengan berpijak pada sebuah batu yang kemudian disebut dengan 'Maqam Ibrahim' atau tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim as.

Setelah Nabi Ismail as wafat, tanggungjawab pemeliharaan Ka'bah berpindah ke tangan keturunan Nabi Ismail as. Selanjutnya, pada generasi kelima, oleh suku Amaliqah, dilakukan pemugaran terhadap Ka'bah. Sekanjutnya suku Jurhum (generasi keenam), diperbaharui oleh Qushai bin Qilab (generasi ketujuh) yang mlakukan perubahan terhadap dinding-dinding Ka'bah. Peembangunan selanjutnya (kedelapan) oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW. Generasi kesembilan yang melakukan pembaruan adalah suku Quraisy.

Ka'bah mengalami upaya pmusnahan oleh orang dan kaum tertentu yang merasa cemburu melihat sakralnya Ka'bah. Pertama, ketika Raja Himyar, Tubba' bin Hasan yang beragama Yahudi kembali dari perang antara Aus dan Khazraj. Ia ingin menghancurkan Ka'bah, namun tidak berhasil. Kedua, peristiwa Ghatafan, yaitu upaya yang dilakukan orang-orang Ghatafan untuk menjadikan tanah suci tandingan dari kota Mekah. Inipun gagal.

Ketiga, peristiwa tentara Abraha, yaitu uoaya yang dilancarkan oleh tentara Abraha, gubernur wilayah Najdan untuk membuat Ka'bah tandingan di kota Mekah. Juga berusaha menghancurkan Ka'bah oleh tentara Abraha. Upaya ini gagal setelah tentara Abrahah dihancurkan oleh tentara burung Ababil. Keempat, peristiwa Qaramitah di bawah pimpinan Abu Thair pada masa pemerintahan al Muqtadir (295-320 H) dengan upaya membuat Ka'bah tandingan. Juga berusaha menghancurkan Ka'bah. Kelima, peristiwa Amrillah, yaitu sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan Hajar Aswad dengan besi. Usaha ini juga gagal karena mendapat perlawanan dari penduduk kota Mekah.

Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa orang yang pertama mencuci Ka'bah adalah Rasulullah SAW. Setelah berhasil menaklukan kota Mekah dan menghancurkan segala bentuk berhala yang ditemukan di sekitar Ka'bah. Sampai saat ini praktek pencucian Ka'bah mdenjadi tradisi yang terus dilestarikan oleh pihak Kerajaan Arab Saudi, dua kali dalam setahun. Yaitu pada awal bulan Zulkaidah dan pada awal bulan Rabiul Awal.

n osa

Haji Politik, Haji 2008


Keinginan DPR untuk menggunakan hak angket atas penyelenggaraan haji tahun ini terus bergulir. Sementara Menteri Agama Maftuh Basyuni juga mengakui bahwa penyelenggaraan haji tahun ini dinilai sukses, dengan catatan. Catatannya antara lain masalah pondokan yang lokasinya sebagian besar jauh serta masalah transportasi yang merupakan efek domino dari lokasi pondokan. Inipun disebabkan adanya pelebaran pelataran Masjidil Haram yang mengakibatkan ratusan pondokan di sekitar Masjidil Haram dirobohkan oleh pemerintah Arab Saudi.

Sangatlah arif jika memang niat untuk menggunakan hak angket itu adalah murni dalam rangka upaya sama-sama memperbaiki penyelenggaraan haji di tahun-tahun mendatang. Sangatlah tidak bijak jika ternyata penggunaaan hak angket ini terkait dengan Pemilu 2009 yang sudah di depan mata. Mudah-mudahan dugaan saya salah. Pasalnya terbukti dengan hak angket BBM yang sampai saat ini tidak jelas 'juntrungannya', hingga akhirnya pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kalau boleh saya kilas balik sedikit, saat rombongan pertama pemantau penyelenggaraan haji anggota DPR Komisi VIII yang dipimpin Mohammad Said Abdullah dari PDIP. Sepuluh anggota DPR KOmisi VIII yang datang ke Mekah beberapa waktu lalu ini benar-benar 'hebat'. Rombongan orang terhormat ini bisa memberikan penilaian menyeluruh seputar penyelenggaraan haji 'hanya' tiga lokasi pondokan dari sekitar 600 pondokan jamaah yang ada di Mekah.

Bagaimana 10 anggota DPR ini 'mencerca' dengan pertanyaan-pertanyaan pada PPIH Daker Mekah yang dipimpin Zaenal Abidin Supi dalam pertemuan setelah melakukan pemantauan tak lebih dari dua jam. Itupun hanya ke paparan penyelenggaraan haji di Mekah. Tanpa memberi kesempatan Supi memberikan penjelasan paparannya, Said langsung memotong agar DPR bisa langsung memberikan pertanyaan-pertanyaan saja. Kebetulan saya dan beberapa rekan MCH hadir dalam pertemuan paparan usai tinjauan ke lapangan yang tak lebih dari dua jam itu.

Pertanyaan-pertanyaan 'konyol' pun bermunculan, yang terkesan justru anggota DPR sama sekali tak memahami permasalahan yang ditanyakan. Misalnya Safriansyah, anggota DPR dari Fraksi PPP ini menanyakan bahwa ia melihat banyak bis-bis pengangkut jamaah Turki berada di salah satu terminal. Namun menurutnya ia sama sekali tidak melihat bis pengangkut jamaah haji Indonesia. Dalam hati saya saat itu, jelas saja tidak melihat. Pasalnya tiga pool atau pangkalan bis pengangkut jamaah haji Indonesia berada di tiga tempat terpisah dan terpisah pula dari terminal bis pengangkut jamaah Turki.


Pertanyaan 'aneh' berikutnya muncul dari Farida Padmo dari Fraksi Partai Demokrat. ''Saya melihat ada jamaah yang mendapat catering, ada yang tidak untuk jamaah di Mekah ini,'' kata Farida. Kembali dalam hati saya seolah tergerak ingin menjawab pertanyaan Ibu anggota dewan tersebut. Tentu saja, tidak ada katering bu. Pasalnya makan jamaah haji selama di Mekah sifatnya adalah mandiri. Tentunya dengan menggunakan uang //living cost// sebesar 1500 real pada masing-masing jamaah yang diberikan oleh pemerintah. Memang ada jamaah yang berdasarkan kesepakatan dalam rombongannya, mereka memasak sendiri dengan biaya 'patungan'. (Konteks pembicaraan bukanlah masalah makanan katering di Armina).

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya hanya sekedar ingin menunjukkan betapa 'kuasanya' anggota DPR. Sah-sah saja menurut saya. Namun tentunya tentu perlu dibekali terlebih dulu dengan pengamatan atau pantauan di lapangan yang memadai.

Pada saat rombongan kedua tim pemantau haji dari DPR Komisi VIII yang dipimpin langsung Azrul Azwar, kondisinya hampir sama, bahkan lebih parah. Salah seorang rekan saya sesama MCH sempat berbincang dengan salah seorang anggota DPR sesaat sebelum melakukan peninjauan ke lapangan. Anggota dewan ini sudah mengatakan bahwa DPR telah berniat menggunakan hak angket untuk penyelenggaraan haji tahun ini. Mendengar cerita rekan saya tadi, saya hanya bergumam dalam hati. Ternyata niat untuk menggunakan hak angket itu sudah ada. Niat menggunakan hak angket itu sudah mereka rancang jauh sebelum mereka melakukan peninjauan ke lapangan dan memberikan penilaian obyektif atas penyelenggaraan haji tahun 2008 ini.

Bagaimana mereka bisa memberi penilaian jika kunjungan pemantauan mereka hanya beberapa hari saja. Misalnya pada hari pertama, rombongan kedua ini juga 'hanya' melihat kondisi perumahan atau pondokan di tiga tempat saja. Persis sama dengan rombongan pertama. Setelah itu seolah mereka telah melihat seluruh kondisi penyelenggaraan haji yang ada.

Apakah ini bisa disebut sebagai usaha bersama untuk memperbaiki penyelenggaraan haji di tahun-tahun mendatang, sementara mereka belum melihat seperti apa sesungguhnya kondisi di lapangan. Ataukah memang upaya-upaya yang terkait politis menjelang pemilu 2009 yang sudah di depan mata.

Saya harap apa yang saat ini bergulir di DPR adalah benar-benar merupakan upaya untuk melakukan perbaikan bersama penyelenggaraan haji di tahun-tahun mendatang dan bukan karena kepentingan politis semata.

n osa